Peran University Press

Jurnal Akademika Vol. 1, No. 1 Januari 2009

PERAN PENTING UNIVERSITY PRESS

SEBAGAI PILAR UTAMA TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI

Kundharu Saddhono

UPT Penerbitan dan Pencetakan (UNS Press)

Universitas Sebelas Maret

Email : kundharu@uns.ac.id

Abstract : University press since originally established with the spirit and intention to support the implementation of tri dharma universities. In the intention, the university press publishes, first book text reading. Publication of books of this type is expected to expedite the implementation of the first dharma universities, namely education and teaching. The source script is expected to come mainly from the lecturers who teach at universities that are home to university press. Second, the results of research conducted by both faculty and students. With the publication of the results of research can be spread to the community. This publication also encourage successful implementation of the dharma two universities, namely research. Third, the books on popular science practical skills. If the book first and the second is for the community in and outside the campus. Benefits of publishing model, the third more than that, not infrequently books this model is used when students work through a real university in the village and this dedication in accordance with the dharma that is the third submission. University press as supporting the implementation of tri dharma universities should have the responsibility to publish in university intellectual assets to the general public. University press is expected to put a flag universities concerned. Books published are expected to contribute in the international scientific

Keywords : university press, tri dharma, writing and publishing, education


Pendahuluan

Akhir-akhir ini banyak perguruan tinggi Indonesia yang secara terbuka membeberkan visi dan misinya untuk menjadi universitas penelitian ’research university’ atau world class university. Akan tetapi pada umumnya kelemahan perguruan tinggi di Indonesia adalah pada sisi publikasi padahal karya ilmiah yang telah dihasilkan telah banyak. Di sinilah peran penting sebuah university press yang akan menjadi corong masyarakat ilmiah terutama di perguruan tinggi. University press sebagai pendukung pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi harusnya yang mempunyai tanggung jawab dalam mempublikasikan aset intelektual perguruan tinggi kepada masyarakat luas. University press diharapkan mengibarkan bendera perguruan tinggi yang menaunginya. Buku yang diterbitkannya diharapkan memberikan kontribusi ilmiah di dunia Internasional. Akan tetapi, sudahkan buku terbitan university press Indonesia memberikan kontribusi ilmiah di dunia internasional? Tidak ada informasi yang diperoleh tentang hal itu. Hanya saja, apabila merujuk pada pendapat pendapat Mien A. Rifai, kontribusi buku ilmiah Indonesia di dunia internasional lebih kecil daripada kontribusi jurnal ilmiah Indonesia di dunia internasional. Kontribusi jurnal ilmiah Indonesia setiap tahunnya di dunia internasional tidak sampai 0,012% (Rifai, 2006: 1). Angka tersebut sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Bandingkan saja dengan negara kecil seperti Singapura yang mempunyai kontribusi jurnal ilmiahnya 0,179%, Amerika Serikat dan Jepang yang berada di atas 20%. Maka bisa dibayangkan betapa tidak berdampaknya buku-buku terbitan university press Indonesia di dunia internasioal (Abrar, 2006a: 70).

Hal tersebut juga diperparah dengan hasil buku yang diterbitkan di Indonesia masih sangat sedikit. Pudjo Sumedi sebagai Kepala Pusat Grafika Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional dan sekaligus pembina university press di Indonesia memberikan gambaran industri buku Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia dan Vietnam (2007b: 7). Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa hanya menerbitkan buku berjumlah 10.000 judul buku setiap tahun. Jumlah yang sama yaitu 10.000 judul buku per tahun juga diterbitkan Vietnam, tetapi jumlah penduduknya hanya 26 juta jiwa. Adapun Malaysia dengan jumlah penduduk 80 juta jiwa mampu menerbitkan buku 15.000 judul buku per tahun. Dari 10.000 judul tersebut porsi yang diisi buku perguruan tinggi hanya 8% dan itu pun sebagian besar cetak ulang serta terjemahan dari buku-buku teks asing (Rifai, 2008: 3).

Permasalahan langkanya buku ilmiah yang diterbitkan oleh perguruan tinggi apabila ditangani dengan pola pembinaan yang baik akan bisa teratasi. Pudjo Sumedi (2007a: 3; Rifai, 2008: 3-9) menyebutkan bahwa sebenarnya di perguruan tinggi lebih berpotensi untuk mengembangkan dunia perbukuan melalui university press-nya. Penulis banyak, pengguna jelas dan terukur, serta banyak bahan penulisan. Kendala yang umum, penyebab kurang suburnya university press antara lain: kurang kepedulian pimpinan, kurang fasilitas, kurang professionalnya pengelola, kurang modal, dan status organisasi. Sungguhpun belum ada penelitian ke arah itu, kuat diduga kemajuan university press menunjukkan kemajuan perguruan tinggi yang bersangkutan.

Menurut hasil input data profil university press yang dilakukan Pusat Grafika Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional menunjukkan kompleksitas masalah dan tantangan yang dihadapi akibat pengaruh krisis moneter, perkembangan teknologi grafika yang pesat, kebijakan otonomi daerah dan kebijakan otonomi perguruan tinggi; sehingga masih banyak perguruan tinggi yang belum mampu mendirikan university press, sebagian yang sudah berdiri belum beroperasi dengan fungsi seperti yang diharapkan (Sumedi, 2007a). Oleh karena itu, upaya pembinaan teknis dan pengembangan kegiatan university press masih memerlukan perhatian yang serius agar dapat memberikan kontribusi yang besar bagi penyelenggaraan pendidikan dan misi tri dharma perguruan tinggi.

University press adalah jenis industri yang berada dalam suasana yang dilematis, di mana industri ini mengalami berbagai kendala sumberdaya dan proses kegiatan namun diyakini menjadi industri yang sangat berkompeten terhadap dinamika perkembangan perguruan tinggi. Secara kuantitas maupun kualitas keberadaan university press mengalami berbagai kendala dan kesulitan, baik berasal dari dalam dan luar perguruan tinggi. Cita-cita mewujudkan university press yang andal, profesional, produktif, dan mandiri adalah solusi tuntutan kebutuhan masyarakat intelektual di manapun, termasuk di Indonesia, khususnya Jawa Tengah meskipun tantangannya cukup berat pada era globalisasi ini (Siregar dan Batubara, 2006: 63)

Semaraknya dunia penerbitan akhir-akhir ini tampaknya tidak dinikmati oleh penerbit kampus (university press) di Indonesia. Situasi tersebut sangat ironis dengan kondisi di tahun 80-an. Gama Press misalnya, dikenal sebagai penerbit yang tidak hanya diakui oleh dunia akademis di dalam negeri, tetapi juga menjadi rujukan dunia kampus di mancanegara. Buku Dari Negara Indonesia Timur ke Republik Indonesia Serikat karya Anak Agung Gde Agung saat itu mampu menggetarkan dunia ilmiah dan menjadi koleksi perpustakaan perguruan tinggi di luar negeri. Bahkan, koran-koran Belanda menjadikan buku tersebut menjadi bahan acuan (Kompas, 21 Agustus 2004).

Persoalan yang dihadapi university press secara umum antara lain pergantian pimpinan, kelemahan manajemen, keterbatasan dana dan peralatan, persoalan naskah, serta persoalan-persoalan internal lain yang bersumber dari kekurangpedulian lembaganya, akan pentingnya keberadaan lembaga penerbitan kampus. Persoalan lain yang membuat penerbit kampus tidak bisa bersaing dengan penerbit swasta adalah persoalan kepekaan terhadap keinginan pasar. Sebenarnya permasalahan lain yang dihadapi university press di Indonesia lebih global dan kompleks, terutama dari sisi budaya menulis sendiri.

Di samping berbagai persoalan di atas, kualitas sumber daya manusia yang ada di penerbitan kampus juga menjadi salah satu persoalan penting yang mengakibatkan penerbit kampus kurang bisa berkembang. Hal ini bisa dilihat dari cara kerja, kualitas, dan tampilan dari produk-produk yang dihasilkan. Dalam hal desain dan lay out sampul buku, misalnya, buku-buku terbitan kampus umumnya terlihat kaku dan tidak menarik. Akibatnya, meskipun buku itu sebenarnya isinya bagus, orang tidak ada yang mau beli karena tampilannya tidak menarik.

Peran Penting Penerbitan di Perguruan Tinggi

Di negara yang telah maju maupun yang sedang berkembang, industri buku merupakan industri kecil, jika dipandang dari segi keuangannya. Tetapi seperti tombol kecil dapat menggerakkan dan mengendalikan mesin raksasa atau peralatan listrik dapat menyalurkan tenaga listrik ke daerah-daerah yang jauh, begitu pula penerbitan buku merupakan suatu ”kunci”. Karena hal itu tidak selalu dipahami dan diterima baik oleh orang-orang di luar bidang perbukuan, maka salah satu faktor penting dalam strategi utama mengenai perkembangan buku di setiap negara ialah menerangkan kepada khalayak atau setidaknya kepada mereka yang bertugas dalam bidang perencanaan nasional, bagaimana penerbit buku benar-benar merupakan kunci bagi perkembangan pendidikan, sosial, dan ekonomi serta pembangunan bangsa dan negara yang sesungguhnya (Smith, 2005: 17). Jadi, secara praktis dan dengan istilah-istilah yang mudah dipahami oleh mereka di luar lingkungan perbukuan, gagasan tersebut dengan sangat sederhana dapat diungkapkan dengan mengatakan bahwa pendidikan adalah investasi dasar bagi perkembangan ekonomi dan bahwa buku adalah alat dasar bagi pendidikan.

Penerbitan merupakan salah satu bidang penting yang harus dilakukan oleh akademisi. Para akademisi menyumbang dunia penerbitan dalam bentuk buku ilmiah, buku ajar, buku teks, monograf, jurnal, dan lain-lain. Dengan penerbitan inilah, akademisi berpeluang menyebarkan pikiran dan ide mereka untuk dibaca masyarakat di kampus maupun di luar kampus. Perguruan tinggi mempunyai peranan yang penting dalam menawarkan peluang dan ruang yang besar kepada warga akademiknya menerbitkan karya ilmiah mereka. Perguruan tinggi melalui university press dilihat sebagai gatekeepers of ideas (Core, 1976) atau penjaga pintu yang utama dalam penerbitan ilmiah yang bukan saja menyumbang pada industri buku, bahkan bertanggung jawab dalam melahirkan komunitas ilmuwan (Ishak, 2006: 52).

Untuk membantu menyelesaikan berbagai permasalahan pendidikan yang ada dalam tubuh Departemen Pendidikan Nasional baik secara internal maupun eksternal, university press yang juga berada dalam dunia pendidikan nasional diharapkan dapat menjadi corong perkembangan masyarakat ilmiah di setiap perguruan tinggi dengan tidak melahirkan produk-produk yang bersifat kodian namun justru dapat menghasilkan berbagai produk maupun karya yang spesifik dan berkualitas (Darmanto, 2006: 1).

Ignas Kleden (2000: 248-256) dalam tulisannya yang berjudul ”Buku, Kecerdasan dan Pendidikan” menyatakan hubungan di antara ketiganya. Pada intinya yaitu buku memang sebuah sarana yang efektif untuk meningkatkan kecerdasan dan peranan buku untuk meningkatkan kecerdasan baru akan efektif jika buku ditempatkan dalam suatu suasana umum yang mendukung perkembangan intelegensia. Jadi, buku adalah input dan sekaligus output kecerdasan kolektif. Peran university press adalah menghasilkan buku yang berkualitas dan bermanfaat untuk menunjang hak tersebut.

Organisasi dan Manajemen University Press

Organisasi Kerja University Press

University press tiap perguruan tinggi memiliki struktur organisasi tersendiri. Biasanya lembaga penerbitan di perguruan tinggi dinamakan Lembaga Penerbitan Universitas atau Unit Pelaksana Teknis. Peranan university press tersebut tergantung pada apa yang diinginkan oleh pimpinan perguruan tinggi. Pada umumnya visi, misi, tujuan, dan fungsi university press disesuaikan dengan visi, misi, tujuan, dan fungsi perguruan tinggi. Artinya, struktur organisasi university press harus jelas keberadaannya dalam lingkup organisasi perguruan tinggi secara keseluruhan. Dari university press di Indonesia terdapat beberapa macam bentuk organisasi. Ada yang berbentuk unit pelaksana teknis, ada yang berbentuk CV, ada yang berbentuk yayasan, dan ada pula yang berbentuk badan usaha (Pusgrafin, 2007).

Berbagai bentuk organisasi yang ada masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan ialah keberhasilan usaha penerbitan tergantung pada tiga hal, yakni: (1) tempat penerbit itu berada, (2) pimpinan universitas, dan (3) pimpinan pengelola penerbit itu sendiri (Riyadhi, 2006: 11). Arifzan Razak (2007) dalam pemaparan pengalamannya mengelola penerbitan universitas menetapkan setidaknya perlu diperhatikan empat aspek utama dalam organisasi penerbitan buku universitas, yaitu sumber daya manusia, dana dan biaya, sarana dan prasarana, pemasaran dan produksi.

Manajemen Operasional University Press

Manajemen organisasi usaha penerbitan sebaiknya menggunakan pendekatan fungsi yang ada dalam teori evolusi manajemen dikenal dengan istilah management by fungction. Manajemen ini menitikberatkan pada operasional masing-masiong fungsi, misalnya dari input menuju output, masing-masing berjalan sesuai fungsinya dengan target pencapaian mutu. Konsep total quality managenment (TQM) yang diperkenalkan oleh Heizer & Render sebagai konsep Kyzen ini dapat pula diterapkan dalam dunia penerbitan, seperti pada university press (Riyadhi, 2007: 18).

Dalam buku Pedoman Umum Pengelolaan University Press (Pusgrafin, 2006) dijabarkan tentang manajemen operasional university press sebagai berikut.

(1) Manajemen Bidang Editoral

Dalam manajemen bidang editorial, hal yang perlu diperhatikan adalah berkaitan dengan pernaskahan, persyaratan naskah, sumber naskah, pertimbangan naskah, administrasi naskah, hak cipta dan perjanjian penerbitan, serta ISBN/ISSN.

(2) Manajemen Bidang Produksi

Manajemen bidang produksi meliputi tahapan kerja produksi naskah (pracetak, proses cetak, dan pascacetak) dan harga atau biaya produksi,

(3) Manajemen Bidang Pemasaran dan Distribusi

Manajemen bidang pemasaran dan distribusi meliputi lingkup pasar dan pemasaran, pergudangan, jaringan pemasaran, dan distribusi.

(4) Manajemen Bidang Administrasi dan Keuangan

Manajemen bidang administrasi dan keuangan meliputi peranan administrasi, biaya operasional dan perhitungan laba rugi, publikasi, dan dokumentasi.

University Press sebagai Penyangga Utama Tri Dharma Perguruan Tinggi

University press sejak semula didirikan dengan semangat dan niat menunjang pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi (Abrar, 2006: 1). Dalam merealisasikan niat tersebut, UP menerbitkan, pertama buku-buku teks bacaan. Penerbitan buku jenis ini diharapkan memperlancar pelaksanaan dharma pertama perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran. Sementara sumber naskah diharapkan terutama datang dari para dosen yang mengajar pada perguruan tinggi yang menaungi university press tersebut. Kedua, hasil-hasil penelitian baik yang dilakukan dosen maupun mahasiswa. Dengan penerbitan hasil-hasil penelitian tersebut bisa tersosialisasikan kepada masyarakat. Penerbitan ini juga mendorong suksesnya pelaksanaan dharma kedua perguruan tinggi, yaitu penelitian. Ketiga, buku-buku ilmiah populer tentang keterampilan praktis. Kalau buku pertama dan kedua ditujukan untuk masyarakat di dalam dan luar kampus. Kebermanfat model penerbitan yang ketiga lebih dari itu, tidak jarang buku model ini dipakai para mahasiswa ketika menempuh kuliah kerja nyata (KKN) di desa pengabdian dan ini sesuai dengan dharma ketiga yaitu pengabdian.

Menyikapi paradigma pengelolaan university press sebagai organisasi pembelajar yang bergerak secara holistik dan sistemik, Ana Nadhya Abrar (dalam Riyadhi, 2006: 1) mengemukakan tiga hal penting yang menjadi rujukan bersama dalam pembinaan dan pengembangan university press ke depan. Ketiga pokok pemikiran tersebut, yaitu: (1) penerbitan sebagai upaya membangun masyarakat berbasis ilmu pengetahuan, (2) penerbitan sebagai upaya mengantisipasi ledakan ilmu pengetahuan, dan (3) penerbitan sebagai pengibar bendera perguruan tinggi.

Upaya Membangun Masyarakat Berbasis Ilmu Pengetahuan

Zaman telah membawa berbagai perubahan dalam konteks mengaskes ilmu pegetahuan. Berkat kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi, masyarakat sudah bisa mengakses ejournal berbagai disiplin ilmu. Berkat email masyarakat bahkan bisa men-download berbagai isi buku terbaru tentang berbagai bidang pengetahuan. Semua itu, bisa sedikit banyak mengurangi ketergantungan masayarakat pada buku dalam bentuk konvensional. Akan tertapi, pengurangan masyarakat pada buku tidak akan menjadi masalah besar buat university press sepanjang masyarakat berbasis ilmu pengetahuan bisa terbangun, yaitu (1) kritis, bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Yang baik dipakai, yang buruk dibuang, (2) skeptis, bersedia percaya begitu saja pada informasi yang sampai pada mereka, (3) terbuka, bersedia membuka diri terhadap semua nilai yang datang dari luar mereka, dan (4) universal, selalu menggunakan ukuran universal dalam melakukan pekerjaan (Riyadhi, 2006: 2)

University Press sebenarnya bisa ikut membangun masyarakat berbasis ilmu pengetahuan. Bukankah ia menerbitkan buku ajar (text book), buku bacaan (readers), buku referensi (reference books), dan buku hasil penelitian (report of research). Lewat keempat jenis buku ini bisa memberikan informasi ilmu pengetahuan kepada masyarakat untuk menimba ilmu pengetahuan. Bahkan lewat keempat jenis buku ini bisa mengajak masyarakat beradaptasi dengan realitas tentang kemajuan ilmu pengetahuan. Sayang sekali jumlah buku yang berhasil diterbitkan tidak banyak sudah begitu, penampilan tidak menarik dan jaringan promosi tidak luas sehingga buku-buku terbitan university press kalah bersaing dengan buku-buku terbitan penerbit umum. Solusinya, university press melakukan direct selling untuk memasarkan bukunya. Mungkin pula university press perlu bekerja sama dengan media massa untuk mempopulerkan buku-buku terbitan penerbit akademik. Bagimana pun masyarakat sudah punya budaya media massa. Informasi yang disiarkan media massa sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Kalau informasi tentang buku ilmiah muncul di media massa bukan mustahil ia bisa jadi pendorong masyarakat untuk mencari buku itu dan membelinya.

Upaya Mengantisipasi Ledakan Ilmu Pengetahuan

Berbeda dengan abad 20, abad 21 ditandai oleh transformasi sosial besar-besaran. Akibatnya, posisi pendidikan tinggi sekarang harus menjadi penyedia pelayanan ilmu pengetahuan dalam bentuk seperti yang diinginkan masyarakat (knowledge server). Posisi pendidikan tinggi sebagai knowledge server sendiri –berdasarkan apa yang terjadi dalam masyarakat—sepertinya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat sudah menganggap bahwa pendidikan tinggi bisa memberikan ilmu pengetahuan dan kehidupan yang lebih layak. Tidak heran bila masyarakat kemudian menganggap abad 21 sebagai abad ilmu pengetahuan (the age of knowledge). Individu yang tidak punya pengetahuan dianggap tidak akan bisa bersaing untuk memperoleh hidup yang layak. Terlepas dari segala kekurangan, pendidikan tinggi harus bertahan sebagai knowledge server yang pada gilirannya harus bisa mempertahankan antusiasme masyarakat mencari ilmu pengetahuan. Dengan terjaganya antusiasme masyarakat mencari ilmu pengetahuan, maka masyarakat akan berusaha mencari ilmu pengetahuan di mana saja mereka bisa memperolehnya. Mereka akan realisasikan segala sumber daya mereka untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Mereka tidak akan merasa keberatan membuang tenaga dan energi demi memperoleh ilmu pengetahuan.

Sebelum mempertahankan antusiasme masyarakat mencari ilmu pengetahuan, perguruan tinggi terlebih dahulu harus membangun antusiasme warganya –terutama dosen dan mahasiswa—untuk mencari ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi harus mendidik dosennya menjadi resourceful bagi mahasiswa, terutama tentang ledakan ilmu pengetahuan yang terjadi di dunia barat. Pendidikan tinggi harus mendorong dosennya menggunakan sumber materi mutakhir dalam perkuliahan. Perguruan tinggi juga harus menggalakkan penelitian untuk kepentingan kuliah. Perguruan tinggi bahkan perlu mendorong dosennya untuk menulis buku di university press. Kita tentunya berpendapat bahwa bila sebuah perguruan tinggi terkesan bersedia mengantisipasi ledakan ilmu pengetahuan, maka pendidikan tinggi bersangkutan akan eksis di mata masyarakat sebagai knowledge server. Posisi ini akan melahirkan berbagai dampak yang diharapkan bisa memelihara antusiasme masyarakat mencari ilmu pengetahuan. Masyarakat pun akan senang hati berhubungan dengan semua produk pendidikan tinggi yang menyimpan ilmu pengetahuan, termasuk university press di Indonesia.

Pengibar Bendera Perguruan Tinggi

Sama sekali tidak jelek bagi university press untuk mencari keuntungan materi dari buku-buku yang diterbitkannya. Tetapi, keuntungan itu tidak boleh mengalahkan keinginan untuk mengibarkan bendera pendidikan tinggi tempat ia bernaung. Ini tidak hanya menyangkut persoalan praktis, tetapi terutama menyangkut kebijakan (policy). Kebijakan harus dirumuskan dengan baik sehingga penerbit tetap concern mengibarkan bendera pendidikan tinggi tempat ia bernaung.

Kebijakan ini bisa diteruskan pada tingkat program dengan menerbitkan buku-buku yang meningkatkan citra pendidikan tinggi yang menaunginya. Buku seperti ini terbit atas dua kelopmok, yaitu (1) meningkatkan citra pendidikan tinggi yang menaunginya dan pasarnya luas, dan (2) meningkatkan citra pendidikan tinggi yang menaunginya, tapi pasarnya sempit. Di luar itu, masih ada model buku yang lain, yaitu (1) tidak meningkatkan citra pendidikan tinggi yang menaunginya, tapi pasarnya luas, dan (2) tidak meningkatkan citra pendidikan tinggi yang menaunginya dan pasarnya sempit (Riyadhi, 2006: 5).

Apa yang harus dilakukan untuk mengibarkan bendera pendidikan tinggi yang menaunginya adalah dengan menerbitkan buku kelompok (1) dan (2). Untuk itu, university press harus bekerja keras mengusahakan penerbitan buku yang memiliki kedua sifat itu. Usaha itu tidak hanya menyangkut mencari penulis yang andal, mengerjakan proses penerbitan dengan sempurna, tetapi juga meminta dukungan dari pendidikan tinggi soal materi isi buku yang pantas dibahas sebuah buku. Yang terakhir kadang-kadang sulit di dapat. Tidak hanya pemimpin pendidikan tinggi yang memiliki komitmen selalu memantau penerbitnya. Tidak banyak pemimpin perguruan tinggi yang sadar betul bahwa penerbitnya bisa diandalkan untuk mengibarkan bendera pendidikan tinggi, dalam hal ini, mestinya ada sebuah langkah yang bisa ditempuh university press untuk tetap mengibarkan bendera pendidikan tinggi yang menaunginya. Langkah ini adalah menjadikan penerbitnya sebagai institusi budaya dan pendidikan. Dengan menempatkan kedua posisi ini, university press bisa lebih leluasa menerbitkan buku-buku yang bermutu yang pada gilirannya bisa mengibarkan bendera pendidikan tinggi yang menaunginya.

Penutup

University Press merupakan pilar terpenting dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. University press mempunyai peran yang cukup vital dalam mempublikasikan dan mendistribusikan aset inteklektual perguruan tinggi kepada masyarakat luas. Kekayaan intelektual di perguruan tinggi apabila tidak dipublikasikan tidak akan dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat luas bahkan hanya akan tersimpan saja di rak-rak bercampur dengan kotoran debu. University Press juga sebagai corong masyarakat ilmiah untuk masyarakat luas karena melalui university press kaum intelektual dapat menyalurkan ide-ide cemerlangnya. Harapan mulia ini tentunya dapat membangun bangsa Indonesia yang lebih beradab dan bermartabat. Bangsa Indonesia tidak saja bisa ngomong tetapi ada bentuk publikasinya yang dapat menjadi prasasti sejarah dan dapat dimanfaatkan sampai kapanpun bahkan sampai penulisnya meninggal karya-karya intektualnya masih menjadi sejarah.

Daftar Pustaka

Abrar, Ana Nadya. 2006a. ”Siapa Sebenarnya Direktor Universitu Press”. dalam Hamedi Mohd Adnan (Ed.). Penerbitan Malaysia-Indonesia: Mengukuhkan Jaringan Penerbitan Serantau. Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya.

Abrar, Ana Nadya. 2006b. ”Gaya Penerbitan Buku University Press”. Makalah yang Disampaikan dalam Seminar dan Workshop Penerbit University Press di Jakarta 26 April 2006: Pusat Grafika Indonesia Departemen Pendidikan Nasional.

Core, A.. 1976. ”Publisher as Gatekeepers of Idea” dalam Philip G. Altbach (Ed.). Perspective on Publishing. Lexington: Lexington Books

Darmanto, Nova. 2006. ”University Press sebagai Corong Masyarakat Ilmiah” dalam Pusgrafin Newsletter Edisi II-2006. Jalarta: Pusat Grafika Indonesia Departemen Pendidikan Nasional.

Djamara, M. Tabrani, dkk. 2007. Direktori Grafika dan Media 2007-2008. Jakarta: Pusat Grafika Indonesia (Pusgrafin) Departemen Pendidikan Nasional.

Ishak, Mohamed Mustafa. 2006. ”Universiti dan Penerbitan Ilmiah di Malaysia” dalam Hamedi Mohd Adnan (Ed.). Penerbitan Malaysia-Indonesia: Mengukuhkan Jaringan Penerbitan Serantau. Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya.

Kleden, Ignas. 2000. ”Buku, Kecerdasan, dan Pendidikan” dalam Dadang S. Anshori. Menggagas Pendidikan Rakyat: Otosentrisitas Pendidikan dalam Wacana Politik Pembangunan”. Bandung: Alqaprint.

Noor, Riyadhi, dkk. 2005. Pedoman dan Pengelolan University Press. Jakarta: Pusat Grafika Indonesia Departemen Pendidikan Nasional.

Razak, Arifzan. 2007. “University Press (Penerbit Universitas): Penulis – Penerbit – Pembaca”. Makalah yang Disampaikan dalam Seminar Peran University Press dalam Penerbitan Buku Ilmiah di Perguruan Tinggi, Solo 15 Maret 2007: Program Buku Teks Lembaga Pengembangan Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

Razak, Arifzan. 2006. “Struktur Organisasi dan Rincian Tugas University Press”. Makalah yang Disampaikan dalam Seminar dan Workshop Penerbit University Press di Jakarta 26 April 2006: Pusat Grafika Indonesia Departemen Pendidikan Nasional.

Razak, Arifzan. 2006. “Sejarah University Press di Indonesia” dalam www.gmup.ac.id . Diakses Tanggal 26 April 2006.

Rifai, Mien A.. 2006. ”Penyuntingan Gaya dan Format Buku Ilmiah”. Makalah yang Disampaikan dalam Seminar dan Lokakarya Pembinaan dan Pengembangan University Press se-Indonesia, Jakarta 26 April 2006: Pusat Grafika Indonesia (Pusgrafin) Departemen Pendidikan Nasional.

Rifai, Mien A.. 2008. ”Prospek Penerbit Buku Perguruan Tinggi di Indonesia”. Makalah yang Disampaikan dalam Seminar Penulisan dan Penerbitan Buku Ajar Perguruan Tinggi di Surabaya 22 Januari 2008. Surabaya: Airlangga University Press Universitas Airlangga.

Saddhono, Kundharu dan Sumedi AS, Pudjo. 2008. ”Prospek Perkembangan Industri Grafika di Indonesia dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Perbukuan Perguruan Tinggi” dalam Seminar dan Workshop Nasional Penulisan dan Penerbitan Buku Ajar. Surakarta: Program Buku Teks Lembaga Pengembangan Pendidikan.

Saddhono, Kundharu. 2008. ”Pengembangan UNS Press Menuju Unit yang Produktif” Laporan Kegiatan Lokakarya. Surakarta: Balitbang UPT Penerbitan dan Pencetakan Universitas Sebelas`Maret (UNS Press).

Siregar, A. Ridwan. 2006. ”Membangun Pusat Data Penerbit Universiti antara Rumpun Melayu untuk Menunjang Pemasaran Bersama” dalam Hamedi Mohd Adnan (Ed.). Penerbitan Malaysia-Indonesia: Mengukuhkan Jaringan Penerbitan Serantau. Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya.

Smith, Datus C.. 2005. Penuntun Penrbitan Buku. Jakarta: Pusat Grafika Indonesia Departemen Pendidikan Nasional.

Sumedi AS, Pudjo. 2007a. ”Problem dan Tantangan Pembina Teknis University Press” dalam Penyuluh Grafika No. 2 April-Juni 2007, Jakarta: Pusat Grafika Indonesia Departemen Pendidikan Nasional.

Sumedi AS, Pudjo. 2007b. ”Prospek Perkembangan Industri Grafika di Indonesia dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Buku Ilmu Pengetahuan”. Makalah yang Disampaikan dalam Seminar Peran University Press dalam Penerbitan Buku Ilmiah di Perguruan Tinggi, Solo 15 Maret 2007: Program Buku Teks Lembaga Pengembangan Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

Parera, Frans. 2006. ”Pemberdayaan Penerbit University Press”. Makalah yang Disampaikan dalam Seminar dan Workshop Penerbit University Press di Jakarta 26 April 2006: Pusat Grafika Indonesia Departemen Pendidikan Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Skip to toolbar