Tradisi Sekaten Surakarta

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

(Depdiknas, Terakreditasi)

Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta :

Kajian Alternatif Pengembangan Bahan Ajar

Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah

Kundharu Saddhono

Universitas Sebelas Maret

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) cerita rakyat yang melatarbelakangi diadakannya Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta; (2) prosesi dan nilai simbolis yang terkandung dalam Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta; dan (3) pelaksanaan pembelajaran sastra di SD, SMP, dan SMA. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan strategi penelitian studi kasus terpancang tunggal. Sumber data penelitian berupa peristiwa, informan, dokumen, dan benda budaya. Objek penelitian ini adalah cerita rakyat yang melatarbelakangi diadakannya Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta, prosesi dan simbol yang terdapat dalam Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta, dan pelaksanaan pembelajaran sastra di SD, SMP dan SMA. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam (in-depth interview), pengamatan langsung, dan analisis isi dokumen. Teknik sampling yang digunakan yaitu Snowball Sampling dan Purposive Sampling. Validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber, triangulasi metode, dan review informan. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu teknik analisis interaktif. Hasil analisis cerita rakyat yang melatarbelakangi Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta yang telah diteliti berupa asal-usul diselenggarakannya Sekaten dengan berdirinya Kerajaan Demak sebagai pusat penyebaran agama Islam oleh Raden Patah dan Wali Songo. Penyebaran Islam tersebut dilakukan dengan mengakulturasikan budaya setempat dengan ajaran Islam. Untuk itu dibuatlah suatu momentum yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu dakwah dengan menggunakan media gamelan. Masyarakat pun tertarik, dan mereka yang datang ke masjid diberikan dakwah serta disyahadatkan. Syahadatan sebagai ikrar pengakuan diri terhadap Ke-Esaan Allah SWT mendapat respon positif, dan lama-lama dikenal dengan Sekaten. Prosesi dalam Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dimulai pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul empat sore, yaitu ditandai dengan dibunyikan gamelan sekaten di Masjid Agung untuk yang pertama kali. Selama satu minggu halaman Masjid Agung dipenuhi dengan keramaian, baik para pedagang yang menjual dagangan khas sekaten, maupun masyarakat yang berantusias ingin mendengarkan alunan gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari yang diletakkan di Pendopo Utara dan Selatan Masjid Agung. Kemudian pada puncak acara tanggal 12 Rabiul Awal dikeluarkanlah gunungan dari keraton. Masyarakat dari berbagai daerah datang untuk mengikuti acara tersebut, termasuk tradisi rayahan gunungan yang dipercaya oleh masyarakat akan mendatangkan berkah dan rejeki. Simbol yang terkandung dalam Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta, yaitu terdapat dalam gunungan yang dikeluarkan oleh keraton. Gunungan tersebut sebagai wujud rasa syukur Raja kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan berkah dan rahmat yang diberikan. Hasil analisis pelaksanaan pembelajaran sastra di SD, SMP, dan SMA yang telah diteliti yaitu bahan ajar cerita rakyat dapat digunakan sebagai apresiasi sastra yang dapat menanamkan nilai budi pekerti kepada siswa. Cerita rakyat sebagai kekayaan budaya bangsa memiliki nilai-nilai luhur sebagai cermin jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia. Untuk itu harus dilestarikan keberadaannya agar tidak tergeser oleh budaya asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia.

Keyword : sekaten, cerita rakyat, Surakarta, pembelajaran, dan bahan ajar

A. Pendahuluan

F

olklor adalah bagian dari kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam tulisan maupun dengan contoh yang disertai dengan gerakan isyarat atau alat pembantu pengingat (Danandjaja,1997: 2). Folklor juga mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif, yaitu sebagai alat pendidik, pelipur lara, dan proyeksi keinginan masyarakat pemiliknya.

Dalam perkembangannya, cerita yang melatarbelakangi Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dalam jangka waktu yang relatif lama tentu akan mengalami perubahan, penambahan, dan pengurangan. Begitu pula dengan bentuk permukaan luar pelaksanaan upacara akan mengalami perubahan dan pergeseran dengan tetap menjaga nilai, tujuan, maupun kesakralannya. Salah satu penyebabnya adalah penyebaran cerita yang dilakukan secara lisan, dituturkan dari satu orang ke orang yang lain, turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Padahal manusia mempunyai daya ingat dan kemampuan yang terbatas. Untuk itu, pendokumentasian terhadap cerita rakyat yang mencakup latar belakang dan sejarah perkembangan Upacara Tradisi Sekaten perlu dilakukan agar tidak hilang dan mengalami kepudaran.

Cerita rakyat diadakannya perayaan Sekaten di Surakarta merupakan cerita rakyat milik bersama atau umum bagi para pendukung cerita tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya antusias masyarakat yang masih merayakan dengan khidmad selama satu minggu dalam mengikuti Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Adanya kekayaan sastra tersebut dapat dipergunakan sebagai modal apresiasi sastra, sebab sastra lisan dapat membimbing masyarakat ke arah pemahaman, gagasan, dan peristiwa berdasarkan praktik yang telah menjadi tradisi selama berabad-abad.

Upacara tradisi merupakan bagian dari adat istiadat yang merupakan salah satu upaya masyarakat Jawa untuk menjaga keharmonisan dengan alam, dunia roh, dan sesamanya. Sebagai perwujudan dari itu, Keraton Kasunanan Surakarta sekarang ini masih memiliki beranekaragam hasil kebudayaan. Hal tersebut masih tercermin dengan dilakukannya beberapa upacara tradisional, di antaranya: upacara jamasan pusaka, sekaten, upacara labuhan, upacara garebeg besar, sesaji mahesa, lawung, dan lain sebagainya. Upacara tradisional tersebut masih terpelihara dengan baik.

Keraton Kasunanan Surakarta merupakan sebuah kerajaan Islam. Dalam agama Islam, Nabi Muhammad SAW merupakan Rasul pembawa ajaran Islam di muka bumi, sehingga hari kelahiran beliau diperingati oleh umat Islam, karena Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa kebenaran. Selain itu dalam ajaran Islam disebutkan bahwa orang harus selalu bersyukur atas segala sesuatu yang telah diberikan oleh Tuhan. Oleh sebab itu, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, Keraton Kasunanan Surakarta mengemasnya dalam bentuk upacara tradisional. Salah satu budaya tradisional yang hingga saat ini tetap dipertahankan keberadaannya adalah Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta. Pada dasarnya upacara tradisi ini merupakan upacara memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Upacara tersebut sebagai wujud rasa syukur tersebut diadakan setiap tahun sekali dalam penyelenggaraan Sekaten. Perayaan Sekaten ini diadakan setiap 12 Mulud atau 12 Rabiul Awal.

Pada zaman dahulu orang Jawa menyukai gamelan, maka pada saat hari raya Islam itu di dalam masjid diadakan penabuhan gamelan, agar orang-orang menjadi tertarik. Jika masyarakat sudah berkumpul lalu diberi pelajaran tentang agama Islam. Untuk keperluan itu para wali menciptakan seperangkat gamelan yang dinamai Kyai Sekati. Usul dari Sunan Kalijaga tersebut disepakati oleh wali lainnya yaitu pada hari lahir Nabi Muhammad SAW dalam masjid dipukul gamelan. Ternyata banyak orang datang ke masjid untuk mendengarkan gamelan Sekaten (Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) yang dibunyikan mulai pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul empat sore di Pendopo Masjid Agung. Dan pada puncak acaranya tepat tanggal 12 Rabiul Awal diadakan Garebeg yaitu upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keraton. Dari sinilah raja mengeluarkan sepasang gunungan (kakung dan putri) yang bermakna keselamatan dan pembawa berkah.

Upacara Tradisi Sekaten sebagai aset budaya daerah yang sampai sekarang masih diperingati oleh sebagian besar masyarakat Surakarta, mempunyai cerita rakyat yang melatarbelakangi penyelenggaraannya. Cerita rakyat yang terkandung dalam Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta terbentuk dari unsur-unsur intrinsik yang mengandung nilai budaya dan dibangun oleh konteks masyarakat pendukungnya. Cerita rakyat tersebut perlu adanya penyebarluasan serta pendokumentasian agar kemurnian cerita aslinya tidak punah.

Kajian mengenai cerita rakyat dari berbagai daerah memang sudah sering dilakukan, tetapi setiap masyarakat memiliki keanekaragaman cerita rakyat sendiri yang berbeda dengan cerita rakyat masyarakat lainnya. Kajian Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta ini dilakukan untuk menggali dan mendokumentasikan keanekaragaman cerita rakyat yang dimiliki masyarakat Indonesia pada umumnya dan cerita rakyat daerah untuk memperkaya kebudayaan nasional, sampai kapan pun kajian cerita rakyat dari berbagai daerah di tanah air Indonesia akan tetap dilakukan. Upaya pelestarian budaya ini diharapkan dapat menimbulkan rasa bangga dan memiliki budaya nasional. Sehingga pewarisan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam cerita tersebut dapat menanamkan nilai budi pekerti sebagai penyaring budaya asing yang tidak sesuai dengan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia.

Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mewariskan karya-karya para leluhur kepada para generasi baru sehingga dapat melestarikan dan mengembangkan khasanah kehidupan sastra daerah di tengah-tengah persaingan budaya-budaya lain. Sebab sastra daerah merupakan akar budaya bangsa, cermin jati diri bangsa dan sekaligus merupakan aset bangsa.
Bangsa yang tinggi adalah bangsa yang menghargai karya-karya leluhur yang diwariskan kepadanya. Sebagai wujud atas penghargaan tersebut yaitu dengan cara melestarikannya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan warisan itu, di antaranya adalah dengan cara mengajarkan kepada generasi-generasi baru. Apalagi fenomena yang terjadi, bahwa bentuk folklor yang merupakan kekayaan budaya nasional belum tergali sepenuhnya di tanah air tercinta ini. Oleh karena itu, apabila terdapat keunikan-keunikan tertentu dalam folklor, sangat tepat bila dikaitkan dengan pendayagunaan bidang pendidikan khususnya sebagai bahan ajar. Upacara Tradisi Sekaten mempunyai folkor yang sarat dengan nilai. Namun sebagian besar masyarakat Surakarta sendiri sebagai pemilik folklor tidak mengetahui cerita rakyat yang melatarbelakangi Upacara Tradisi Sekaten tersebut. Penyebarluasan cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten ini sangat penting untuk menjaga agar tidak punah, dan mengajarkan kepada generasi muda merupakan cara yang tepat. Agar mengetahui bahwa daerah Surakarta memiliki kekayaan budaya yang dapat digali seperti Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta yang memiliki cerita rakyat yang melatarbelakangi upacara tersebut. Untuk itu hasil dari penelitian ini diarahkan sebagai alternatif bahan ajar yaitu dalam bidang apresiasi sastra. Sebagai masukan pembelajaran sastra untuk materi cerita rakyat di sekolah.

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu (1) mendeskripsikan cerita rakyat yang melatarbelakangi diadakannya Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta, (2) memaparkan prosesi dan nilai simbolis yang terkandung dalam Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta, dan (3) menjelaskan pelaksanaan pembelajaran cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten pada sekolah di Surakarta?

B. Kajian Teori

1. Folklor

Kata folklor secara etimologis berasal dari kata Inggris “folklore”. Kata tersebut merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata dasar “folk dan lore” (Danandjaja,1997: 1). Kata folk berarti sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik yang dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya; sedangkan lore adalah tradisi dari folk, yaitu sebagian kebudayaannya yang diwarisi secara turun temurun secara lisan atau sebagian lisan dengan contoh atau isyarat gerak atau alat pembantu pengingat (mnemonic device).

Jan Harold Brunvard (dalam Danandjaja, 1997: 21) menggolongkan folklor dalam tiga kelompok berdasarkan tipenya : (1) folklor lisan, (2) folklor sebagian lisan, (3) folklor bukan lisan. Istilah lain dari masing-masing folklor tersebut adalah mentifacts, sisiofact, dan artifact. Berdasarkan pendapat tersebut tidak dijelaskan atau dibedakan antara folklor lisan dengan folklor tertulis. Hal ini dapat dimengerti karena pada dasarnya folklor yang berbentuk tulisan adalah jenis folklor lisan, sebagian lisan, maupun folklor bukan lisan yang ditranskripsikan dalam bentuk tulis. Jenis folklor yang diteliti dalam penelitian ini dispesifikasikan pada jenis folklor lisan yang berbentuk cerita rakyat.

Menurut William R. Boscom (dalam Danandjaja, 1997: 19), fungsi folklor adalah sebagai : (1) sistem proyeksi, yaitu mencerminkan angan-angan kolektif; (2) alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan; (3) alat pendidik anak; (4) alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan dipatuhi anggota kolektifnya. Namun demikian, pada umumnya folklor hanya dikenal oleh masyarakat lingkungannya atau daerahnya sendiri.

2. Upacara Tradisi Sekaten

G.P.H. Puger dalam bukunya Sekaten (2002: 1) , menjelaskan tentang asal mula dan maksud perayaan yang diadakan tiap-tiap tahun baik di Surakarta maupun di Yogyakarta. Asal mula Sekaten dimulai pada jaman Demak, jaman mulainya kerajaan Islam di tanah Jawa. Sekaten diadakan sebagai salah satu upaya dalam menyiarkan agama Islam. Karena orang Jawa pada waktu itu menyukai gamelan, maka pada hari raya Islam yaitu pada hari lahirnya Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung dipukul gamelan, sehingga orang berduyun-duyun datang di halaman masjid untuk mendengarkan pidato-pidato tentang agama Islam.

Menurut Supanto (1982: 6), upacara tradisional sebagai pranata sosial penuh dengan simbol-simbol yang berperanan sebagai alat komunikasi antar sesama warga masyarakat, dan juga merupakan penghubung antar dunia nyata dengan dunia gaib. Bagi para warga yang ikut berperan serta dalam penyelenggaraan upacara tradisional, unsur-unsur yang berasal dari dunia gaib menjadi nampak nyata melalui pemahamannya terhadap simbol-simbol tersebut. Upacara tradisional biasanya diadakan dalam waktu-waktu tertentu. Ini berarti menyampaikan pesan yang mengandung nilai-nilai kehidupan itu harus diulang-ulang terus, demi terjaminnya kepatuhan para warga masyarakat terhadap pranata-pranata sosial yang berlaku.

Salah satu bentuk tradisi yang masih dipertahankan ialah Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta. Sekaten berasal dari bahasa Arab, yaitu syahadatain” yaitu kalimat syahadat yang merupakan suatu kalimat yang harus dibaca oleh seseorang untuk masuk Islam, yang mempunyai arti: Tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Sekaten selain berasal dari kata syahadatain juga berasal dari kata : (1) Sahutain : menghentikan atau menghindari perkara dua, yakni sifat lacur dan menyeleweng; (2) Sakhatain : menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan, karena watak tersebut sumber kerusakan; (3) Sakhotain : menanamkan perkara dua, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan; (4) Sekati : setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk; (5) Sekat : batas, orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan.(K.R.T. Haji Handipaningrat : 3).

3. Nilai Simbolis

Kata simbol berasal dari kata Yunani symbolis yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta (2003: 654), simbol atau lambang ialah sesuatu seperti tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya yang mengatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu, misalnya warna putih ialah lambang kesucian, gambar padi sebagai kemakmuran.

Nilai merupakan sesuatu yang dikaitkan dengan kebaikan, kebajikan, dan keluhuran. Nilai merupakan sesuatu yang selalu dihargai, dijunjung tinggi, dan selalu disejajarkan oleh manusia dalam memperoleh kebahagiaan hidup. Dengan nilai manusia dapat merasakan kepuasan, baik lahir maupun batin. Dengan nilai pula manusia akan mampu menentukan sikap, cara berpikir, maupun cara bertindak demi mencapai tujuan hidupnya.

The Liang Gie (dalam Sutarjo, 1998: 8), mendefinisikan nilai sebagai suatu cita-cita, dan cita-cita mutlak yang terkenal dalam filsafat adalah hal yang benar, hal yang baik dan hal yang indah. Pengertian nilai secara sempit sering diasosiasikan sebagai etika tradisisonal yang ruang lingkupnya berkisar kepada kesejajaran antara yang baik dan yang buruk. Nilai adalah sesuatu yang dapat digunakan sebagai tolok ukur atau pedoman, tuntutan yang baik dalam kehidupan masyarakat. Nilai berfungsi sebagai pengarah dan pendorong seseorang dalam melakukan perbuatan. Dengan demikian, nilai dapat menimbulkan tekad bagi yang bersangkutan yang diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari.

Kebudayaan terdiri dari gagasan-gagasan, simbol-simbol, dan nilai-nilai sebagai hasil karya dan perilaku manusia. Begitu erat kebudayaan manusia dengan simbol-simbol, maka tidak berlebihan bila manusia tersebut sebagai makhluk bersimbol. Dunia kebudayaan adalah dunia penuh simbol. Manusia berpikir, berperasaan, dan bersikap dengan ungkapan-ungkapan yang simbolis. Ungkapan-ungkapan yang simbolis ini merupakan ciri khas manusia, yang jelas membedakannya dari hewan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa manusia tidak pernah bisa melihat, menemukan, dan mengenal dunia secara langsung tetapi melalui simbol-simbol (Herusatoto, 1987: 10)

Simbolisme sangat menonjol peranannya dalam tradisi atau adat istiadat. Simbolisme ini terlihat dalam upacara-upacara adat yang merupakan warisan turun-temurun dari generasi yang tua ke generasi berikutnya yang lebih muda. Kata simbol berasal dari kata Yunani symbolis yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang (Herusatoto, 1987 : 10). Sejalan dengan pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia (Anton Moeliono,1996 : 630), bahwa “simbol atau lambang ialah : (1) sesuatu seperti tanda (lukisan,lencana, dan sebagainya) yang mengatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu, misalnya gambar tunas kelapa lambang pramuka, warna biru lambang kesetiaan; (2) simbol bisa berarti tanda pengenal tetap yang menyatakan sifat, keadaan, dan sebagainya, seperti peci putih dan serban ialah lambang haji.”

Segala bentuk dan macam kegiatan simbolik dalam masyarakat tradisional pada dasarnya upaya pendekatan manusia kepada Tuhannya, yang menciptakan, menurunkannya ke dunia, memelihara hidup, dan menentukan kematian manusia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa simbolisme dalam masyarakat tradisional disamping membawakan pesan-pesan kepada generasi berikutnya juga selalu dilaksanakan dalam kaitannya dalam religi (Herusatoto, 1987 : 30-31). Unsur unsur dari kebudayaan yang paling menonjolkan sistem klasifikasi simbolik orang Jawa menurut Koentjaraningrat adalah bahasa dan komunikasi, kesenian dan kasusasteraan, keyakinan keagamaan, ritual, ilmu gaib serta beberapa pranata dalam organisasi sosialnya. (1984: 428).

4. Folklor sebagai Bahan Ajar

Upaya pelestarian dan pewarisan budaya beserta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya salah satunya dengan memperkenalkan serta mempublikasikan Cerita rakyat dalam Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta kepada generasi muda penerus bangsa dengan menampilkan cerita rakyat Sekaten sebagai bahan ajar. Dalam hal ini sebagai bahan ajar Bahasa dan Sastra Indonesia tentang kajian cerita rakyat. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.

Kemp mengatakan materi/bahan ajar merupakan gabungan antara pengetahuan yang termasuk di dalamnya fakta dan informasi, keterampilan yang mencakup langkah, prosedur, keadaan, syarat, dan faktor sikap (knowlegde, skill, dan attitude) (1994: 84).

Dari pendapat Kemp, materi pengajaran Bahasa Indonesia untuk SMA dapat diperinci menjadi tiga macam, yaitu:

a. Materi pengetahuan

Misalnya sejarah perkembangan Bahasa Indonesia, teori-teori tentang kebahasaan, teori-teori sastra

b. Materi keterampilan

Termasuk di dalamnya keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.

c. Materi yang berkaitan dengan sikap

Mengarah agar siswa mempunyai sikap yang pasif terhadap Bahasa Indonesia. Materi ini digunakan dengan melatih pemakaian Bahasa Indonesia secara baik dan benar, mengapresiasikan karya sastra.

Dengan melihat standar kompetensi dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas: 2006) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan:

a. Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri

b. Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar

c. Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya

d. Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah

e. Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia

f. Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.

Berdasarkan standar kompetensi seperti yang telah dijelaskan di atas, disebutkan bahwa daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional. Dengan demikian folklor lisan daerah Surakarta, salah satunya yaitu Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dapat dipilih untuk dijadikan alernatif bahan ajar. Cerita Rakyat dalam Upacara Tradisi Sekaten ini cukup menarik, dan yang lebih penting lagi banyak nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Salah satunya dapat memadukan nilai budaya dan agama secara seimbang, tanpa harus melunturi kekhasan dari nilai budaya dan tetap berpegang teguh pada nilai agama yang bersifat mutlak.

Menghadapi perkembangan jaman dengan diiringi masuknya budaya global yang dapat mempengaruhi mental serta perilaku masyarakat Indonesia, pengenalan budaya lokal dalam usaha pewarisan kekayaan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur sangat tepat untuk membentengi diri dari budaya asing yang tidak sesuai dengan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia. Berkenaan dengan hal tersebut, pengenalan folklor dapat dimasukkan sebagai bahan ajar dalam apresiasi sastra di sekolah. Yaitu disesuaikan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang berlaku, pengajaran cerita rakyat dimasukkan dalam standar kompetensi mendengarkan. Masing-masing diajarkan untuk SD kelas V semester 1, SMP kelas VII semester 1, SMA kelas X semester II. Untuk standar kompetensi dan kompetensi dasar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk materi cerita rakyat terdapat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebagai berikut:

Tabel.1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Kelas V, Semester 1

Mendengarkan

1. Memahami penjelasan narasumber dan cerita rakyat secara lisan

1.1 Menanggapi penjelasan narasumber (petani, pedagang, nelayan, karyawan, dll.) dengan memperhatikan santun berbahasa

1.2 Mengidentifikasi uns cerita tentang cerita rakyat yang didengarnya

Kelas VII, Semester I

Mendengarkan

1. Mengapresiasi cerita rakyat yang diperdengarkan

1.1. Menemukan hal-hal yang menarik dari cerita rakyat yang diperdengarkan

1.2. Menunjukkan relevansi isi cerita rakyat dengan situasi sekarang

Kelas X, Semester II

Mendengarkan

1. Memahami cerita rakyat yang dituturkan

1.1 Menemukan hal-hal menarik tentang tokoh cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan atau melalui rekaman

1.2 Menjelaskan hal-hal yang menarik tentang latar cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan atau melalui rekaman.

Berdasarkan uraian tentang standar kurikulum dan kompetensi dasar dalam materi cerita rakyat di atas, diharapkan pembelajaran sastra disesuaikan sesuai acuan tersebut. Pemilihan materi ajar berupa cerita rakyat harus mengandung nilai didik yang dapat menanamkan budi pekerti pada siswa.

C. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta, yaitu terletak pada kelurahan Baluwarti kecamatan Pasar Kliwon Surakarta. Tempat ini disesuaikan dengan objek yang menjadi kajian dalam penelitian, dimana lokasi tersebut merupakan tempat penyelenggaraan upacara tradisi Sekaten.

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif menggunakan desain yang secara terus-menerus disesuaikan dengan kenyataan lapangan. Desain ini tidak tersusun secara ketat dan kaku, sehingga dapat diubah dan disesuaikan dengan pengetahuan baru yang ditemukan (Moleong, 2001: 7). Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi atau gambaran tentang suatu hal secara sistematis, faktual, dan akurat. Data yang telah terkumpul disusun, dianalisis, diinterpretasikan, dan disimpulkan sehingga memberikan suatu gambaran tentang hasil penelitian yang sistematis dan nyata.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai simbolis dalam cerita rakyat upacara tradisi sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta. Dan selanjutnya hasil dari penelitian ini digunakan sebagai alternatif bahan ajar pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada pokok bahasan mendengarkan dengan kompetensi dasar cerita rakyat. Penelitian ini dilakukan secara langsung dengan mewawancarai, mencatat, mendokumentasikan, serta mengikuti prosesi Upacara Tradisi Sekaten yang diselenggarakan dari tanggal 02 April 2006, hingga pada puncak acara dikeluarkan gunungan dari keraton pada tanggal 09 April 2006. Data yang telah terkumpul akan disusun, dianalisis, diinterpretasikan, dan disimpulkan sehingga memberikan suatu gambaran tentang hasil penelitian yang sistematis dan akurat.

Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan desain studi kasus terpancang tunggal. Desain studi kasus menghendaki suatu kajian yang rinci, mendalam, menyeluruh atas obyek tertentu yang biasanya relatif kecil selama kurun waktu tertentu, termasuk kemungkinan hubungan antar variabel yang ada. (Susanto, 2004: 37). Dalam hal ini peneliti mengkaji data tentang sekaten secara utuh dan mendalam.

Sumber data dalam penelitian ini adalah peristiwa, informan, dokumen, dan benda-benda budaya. Sumber data peristiwa di sini adalah rangkaian prosesi upacara tradisi sekaten yang mencakup persiapan, pelaksanaannya, dan hiburan. Sedangkan informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah orang yang dapat memberikan informasi atau keterangan mengenai segala permasalahan yang diperlukan dalam penelitian ini. Informan yang dimintai informasinya tersebut meliputi pelaku upacara dan masyarakat yang berpartisipasi dalam upacara Sekaten (G.P.H. Puger, Bapak Walimin, Bapak Bejo Prasetyo), dan juga guru Bahasa Indonesia kelas X di SMA Muhamadiyah 3 Surakarta (Bapak Rahadi, S. Pd), guru Bahasa Indonesia kelas VII SMP Negeri 16 Surakarta (Ibu Dewi Sari Anugerah, S. Pd), guru Bahasa Indonesia SD Muhamadiyah 22 Surakarta (Ibu Laelatul Farida, S. Pd), beberapa siswa, dosen mata kuliah Kritik Sastra dan Metode Penelitian Sastra FKIP UNS (Drs. Yant Mujiyanto dan Nugraheni Eko, S.S, M.Hum), dan juga calon guru Bahasa Indonesia dari FKIP UNS(Ainul Qoyim, S. Pd). Data yang diambil yaitu perihal asal-usul yang melatarbelakangi diadakannya Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta, prosesi pelaksanaan, nilai simbolis, dan Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta yang digunakan sebagai bahan ajar untuk apresiasi sastra di sekolah. Untuk mengetahui pembelajaran sastra dan relevansi cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta sebagai alternatif bahan ajar Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah (SD, SMP, dan SMA) diadakan wawancara mendalam dengan guru Bahasa Indonesia SD, SMP, dan SMA, dosen pengampu mata kuliah Kritik Sastra dan Metode Penelitian Sastra, dan calon guru Bahasa Indonesia dari FKIP UNS. Sedangkan untuk mengetahui pengetahuan siswa tentang Sekaten beserta cerita rakyat yang melatarbelakanginya peneliti melakukan wawancara dengan beberapa siswa. Adapun sumber data yang berupa dokumen meliputi sejarah atau babad sekaten (dalam naskah Jawa), foto-foto yang memuat pelaksanaan upacara tradisi sekaten, sumber data atau benda peninggalan budaya yakni perlengkapan sesaji, gunungan, benda-benda pusaka, dan gamelan.

Sumber data di atas tentunya perlu diseleksi untuk mendapatkan data yang diperlukan sehingga akan diambil sampelnya. Teknik pertama yang diterapkan untuk menentukan sampel adalah purposive sampling, yakni pemilihan berdasarkan tujuan. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa tingkat representatif sampel bukan karena kesatuan sumber data yang mencerminkan sifat homogenitas dan keseluruhan sumber data, melainkan keterwakilannya lebih didasarkan atas kemampuannya dalam mengungkap dan menjawab masalah penelitian. Kompleksitas data hanya dapat dijangkau dengan berbagai sumber data yang dapat mewakili informasi yang dibutuhkan.

Selain itu peneliti juga memilih informan yang dipandang benar-benar menguasai masalah yang diteliti, tetapi kemungkinan berkembangnya pilihan informan dapat terjadi tergantung pada kebutuhan dan kemantapan memperoleh data. Oleh karena itu, peneliti juga menerapkan teknik snow-ball sampling, yakni menentukan informan dengan cara bertanya pada orang pertama untuk selanjutnya bergulir ke orang kedua, demikian seterusnya sehingga diperoleh informasi yang akurat.

Ada tiga teknik pengumpulan data yang diterapkan sebagai alat untuk menjaring data secara akurat dan lengkap sehubungan dengan masalah yang diteliti, yaitu : (1) Teknik wawancara mendalam (in-depth interview); (2) Teknik pengamatan langsung; dan (3) teknik analisis isi dokumen atau arsip.

Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan kesahihan data penelitian ini. Cara tersebut antara lain meliputi: teknik triangulasi dan review informan. Moleong (2001: 178) menyatakan bahwa “triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.” Adapun validitas data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu meliputi triangulasi sumber, triangulasi metode, dan review informan.

Triangulasi sumber digunakan untuk memperoleh data yang sama dari sumber yang berbeda. Triangulasi ini diterapkan peneliti dengan membandingkan data hasil pengamatan (prosesi sekaten) dengan data hasil wawancara dan membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen (buku sekaten) yang berkaitan dengan pelaksanaan Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta. Adapun triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode atau teknik pengumpulan data yang berbeda untuk mendapatkan data yang sama atau sejenis, yaitu dengan teknik pengamatan langsung, teknik wawancara mendalam, dan teknik analisis dokumen.

Teknik review informan dilakukan dengan cara menginformasikan ulang data dari informan untuk memperoleh perbaikan dan kebenaran data seandainya ada kesalahan atau ketidaklengkapan dari hasil informasi sebelumnya. Untuk itu, peneliti sebagai instrumen penelitian senantiasa melakukan koreksi secara terus-menerus mengenai hasil penelitiannya.

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis model atau interaktif model of analisys. Mekanisme analisis interaktif pada dasarnya melibatkan tiga komponen utama analisis, yaitu reduksi data, sajian data dan verifikasi/menarik kesimpulan. Keterkaitan ketiga komponen dilaksanakan secara interaktif yang bersifat siklus. Dengan demikian, apabila kesimpulan yang dihasilkan dari analisis dipandang kurang akurat atau belum tepat, maka peneliti kembali ke lokasi penelitian untuk mengumpulkan data dan melaksanakan analisis sehingga diperoleh hasil kesimpulan yang lengkap dan akurat.

D. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Cerita Rakyat yang Melatarbelakangi Diadakannya Upacara Tradisi Sekaten

Upacara Tradisi Sekaten merupakan salah satu tradisi yang hingga sekarang masih dilestarikan dan dipertahankan oleh Keraton Kasunanan Surakarta yang terletak di Kelurahan Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon. Upacara Tradisi ini adalah warisan nilai budaya yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh nenek moyang mereka. Pada mulanya upacara tersebut diselenggarakan tiap tahun oleh raja-raja di Tanah Hindu, berwujud selamatan atau sesaji untuk arwah para leluhur yang diselenggarakan dalam dua tahap.

Tahap pertama disebut Aswameda, yaitu tahap dimana sesaji diselenggarakan selama enam hari, yang dilakukan dengan doa-doa dan nyanyian pujian disertai dengan tetabuhan yang mengandung arti memuja arwah para leluhur, untuk memohon berkat dan perlindungan. Kemudian tahap kedua disebut Asmaradana, yang diselenggarakan pada hari ke tujuh dan merupakan penutup tahap yang pertama. Dalam tahap yang kedua ini diselenggarakan pembakaran dupa besar, yang disertai dengan mengheningkan cipta atau semedi. Dengan masuknya agama dan pengaruh Hindu ke Jawa, maka upacara Aswameda dan Asmaradana maka masuk pula ke dalam kehidupan budaya Jawa. Dan pada jaman Hindu Jawa, raja-raja Jawa juga melestarikan upacara yang diwarisi tersebut.

Tradisi selamatan atau sesaji tersebut diselengggarakan pula oleh raja-raja Majapahit. Mula-mula upacara Aswameda dan Asmaradana itu diselenggarakan di candi-candi, tempat abu leluhur mereka disimpan. Sejak pemerintahan baginda Raja Hayam Wuruk, upacara selamatan dan sesaji Aswameda dan Asmaradana itu tidak lagi diselenggarakan di candi-candi seperti yang dilakukan oleh raja-raja terdahulu, melainkan di tengah-tengah kota. Hal ini terbukti dengan penyelenggaraan upacara untuk mendiang Ibu Suri Baginda Sri Wishnu Wardani. Upacara sesaji untuk arwah para leluhur, yang disebut srada. Oleh Prabu Hayam Wuruk diselenggarakan selama tujuh hari dam tiap-tiap hari, ganti-berganti, para raja di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit mempersembahkan sumbangannya dengan membawa bermacam-macam keramaian.

Pada jaman pemerintahan Sang Prabu Brawijaya V, yang disebut jaman Majapahit terakhir, upacara sesaji tahunan tersebut masih tetap dilaksanakan dengan keramaian yang agak besar. Prabu Brawijaya memiliki satu perangkat gamelan yang sangat tersohor, dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Sekar Delima, yang tiap tahun dibunyikan orang untuk memeriahkan keramaian itu. Oleh rakyat, gamelan tersebut dianggap sangat bertuah dan keramat.

Konon, putra Sang Prabu Brawijaya V yang bernama Raden Patah menjadi Adipati di Bintara telah memeluk agama baru, yaitu Islam. Sang Prabu Brawijaya V mendengar berita bahwa Raden Patah akan menyerbu Kerajaan Majapahit, bila Sang Prabu Brawijaya tidak bersedia masuk agama Islam. Berita semacam itu diterima Prabu Brawijaya V dengan sangat sedih. Untuk mengatasi kesedihan yang sangat mengganggu ketenteraman jiwa itu membuat Prabu Brawijaya V bersemedi atau bertapa selama dua belas hari, memohon kepada para dewa agar Raden Patah membatalkan niatnya untuk menyerbu Majapahit, dan memohon kerajaan dan rakyatnya senantiasa dalam keadaan aman, tenteram, dan sejahtera.

Sementara itu para ahli gending di Kerajaan Majapahit lalu menciptakan lagu-lagu untuk dialunkan melalui gamelan milik baginda, yang tujuannya untuk menghibur hati Sang Prabu Brawijaya agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Mendengar lantunan suara lagu-lagu melalui gamelan pusaka kerajaan itu hati baginda bukannya menjadi terhibur melainkan malah bertambah sedih. Karena lagu tersebut mengalunkan kesedihan yang menyayat hati bagaikan kinjeng tangis yang merintih-rintih dengan lengking tangisnya di tengah hari. Mendengar bunyi gending-gending baru itu baginda raja bahkan membayangkan nasib buruk yang akan dialami Kerajaan Majapahit kelak. Para ahli gending yang mengetahui akibat yang ditimbulkan oleh gending-gending baru itu bukannya membuat senang hati baginda, melainkan bahkan membuat baginda makin sedih. Maka mereka menyuruh para niyaga memukul gamelan itu keras-keras, dengan irama yang diperhitungkan dapat membangkitkan gelora semangat baginda.

Demikianlah pemukulan gamelan tersebut kemudian menggunakan irama bertingkah. Kadang-kadang keras gemuruh laksana gamelan lokananta dengan irama membangkitkan jiwa bergejolak. Dan kadang-kadang lemah lembut mengalun dan menyayat hati. Gamelan kerajaan Majapahit yang dinamakan Kanjeng Kyai Sekar Delima tersebut lalu dinamakan Sekati, karena dapat menambah Sang Prabu Brawijaya seseg ati (sesak hati).

Dalam abad ke-14 agama Islam mulai berkembang di tanah Jawa. Dengan pemuka agama yang dalam Agama Islam disebut wali. Para wali di Jawa ini terkenal ada sembilan orang, karena itu disebut wali. Nama mereka masing-masing adalah Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati, Sunan Muria, Syeh Maulana Maghribi, Syeh Siti Jenar. Tiap-tiap tahun para wali itu mengadakan pertemuan di kota Demak. Pertemuan tahunan tersebut diselenggarakan pada bulan Rabiul Awal, tanggal 6 sampai dengan tanggal 12, dan hari yang terakhir itu diselenggarakan keramaian besar untuk merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Adapun yang dibicarakan dalam pertemuan tahunan tersebut antara lain adalah laporan dari para wali penyebar agama Islam tentang hasil kerja mereka di daerah mereka masing-masing, dan politik umat Islam terhadap rakyat yang masih beragama Hindu. Selain itu kesempatan tersebut juga digunakan pula untuk memberikan pelajaran-pelajaran dan penjelasan tentang ajaran agama Islam terhadap keluarga dan penganut-penganutnya.

Berkat kerja keras para wali, sebagai langkah kemajuan agama Islam, maka di Demak didirikan sebuah masjid besar, yang dipandang berkeramat karena mengandung nilai sejarah. Berdirinya masjid besar di Demak itu diperingati dengan surya sengkala Kori trus gunaning janmi, yang menunjukkan angka tahun 1399 Saka. Sementara itu usaha penyebaran agama Islam makin ditingkatkan. Kesukaran yang mereka rasakan karena rakyat pada waktu itu masih banyak yang menganut agama Hindu, seperti yang dianut oleh rakyat Kerajaan Majapahit. Dengan demikian, bila tidak dilakukan dengan bijaksana, akan mempersulit usaha-usaha memperluas perkembangan agama Islam. Para wali mengetahui bahwa rakyat dari Kerajaan Majapahit masih sangat dekat dengan kesenian dan kebudayaannya, antara lain gemar sekali akan bunyi gamelan dan keramaian-keramaian yang bersifat keagamaan Hindu.

Demi keberhasilan penyebaran agama Islam di Jawa, maka atas saran Kanjeng Sunan Kalijaga, para wali lalu mengatur penyelenggaraan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW dengan cara yang disesuaikan dengan tradisi rakyat pada waktu itu. Oleh karena rakyat menggemari kesenian Jawa dengan gamelannya, maka perayaan untuk memperingati hari kelahiran Nabi selanjutnya tidak lagi menggunakan kesenian rebana melainkan dengan kesenian gamelan. Untuk melaksanakan hal itu Sunan Kalijaga membuat seperangkat gamelan yang dinamakan Kyai Sekati.

Untuk memeriahkan perayaan itu, maka ditempatkanlah gamelan Kyai Sekati di halaman Masjid Demak. Gamelan itu dipukul bertalu-talu tidak henti-hentinya, mula-mula dengan irama dan suara lembut dan halus, lama kelamaan dipukul keras-keras. Karena tertarik dengan bunyi gamelan yang nyaring mengalun tersebut, maka orang-orang dari berbagai penjuru datanglah berduyun-duyun ke pusat kota, sehingga alun-alun kerajaan Demak menjadi penuh sesak dibanjiri orang yang ingin menikmati kesenian gamelan dan menyaksikan keramaian yang diselenggarakan. Keramaian itulah yang kemudian disebut sekaten, dan yang sampai sekarang masih dilestarikan. Sementara itu para wali berganti-ganti memberikan wejangan dan ajaran tentang agama Islam di mimbar yang didirikan di depan gapura masjid.

Orang banyak yang datang tersebut itu diperbolehkan juga masuk ke dalam serambi masjid, tetapi harus terlebih dahulu syahadatain, yang di dalam bahasa Jawa disebut sahadat kalimah loro. Di halaman masjid itu, orang –orang disuruh membasuh tangan, muka dan kaki mereka dengan air kolam luar serambi masjid. Demikianlah keramaian sekaten itu diselenggarakan sekali dalam setahun tiap bulan Rabiul Awal, dari tanggal 6 sampai dengan tanggal 12.

Untuk mengetahui asal mula sekaten yang tiap tahun diadakan di Keraton Kasunanan Surakarta, maka harus memulainya dari jaman Demak. Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam yang di Jawa yang berdiri setelah Majapahit runtuh pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. Keruntuhan Majapahit diperingati dengan candrasengkala ”Sirna Hilang Kertaning Bumi”. Berakhirnya Kerajaan Majapahit berarti berakhir pula Kerajaan Hindu di Jawa, di bawah pemerintahan Prabu Brawijaya V. Raja Demak yang pertama adalah Raden Patah yang bergelar Sultan Bintara.

Sebagai Raja Islam, Sri Sultan Bintara tidak berhenti berdaya upaya untuk memajukan tersiarnya agama Islam di seluruh kerajaan. Sultan Bintara selalu memikirkan bagaimana agar agama Islam dapat menyinari semua pelosok negeri, dan bagaimana orang-orang yang telah memeluk agama Hindu itu akan insyaf dan meyakini kebenaran ajaran Islam.

Raden Patah akhirnya mengadakan suatu pertemuan dengan para wali yang berjumlah sembilan, diantaranya adalah Sunan Ampel (Raden Rahmad), Sunan Gresik (Malik Ibrahim), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Bonang (Makdum Ibrahim), Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, dan Sunan Gunung Jati. Untuk membahas cara menyiarkan Islam di tanah Jawa, Sunan Kalijaga mempunyai usul tentang penyiaran agama Islam agar diterima oleh masyarakat yang sejak dahulu memeluk agama Hindu. Usul Sunan Kalijaga tersebut adalah dengan membiarkan tetap dilaksanakannya adat atau tata cara dalam agama Hindu, tetapi dimasuki pelajaran Islam, misalnya:

1) Semedi

Semedi dalam agama Hindu mempunyai maksud memuja kepada dewa-dewa. Karena agama Islam tidak mengenal dewa, maka diganti dengan memuja Allah SWT dengan sholat.

2) Sesaji

Sesaji menurut agama Hindu mempunyai maksud memberi makanan kepada dewa-dewa dan jin, agar sesuai dengan ajaran Islam diganti dengan zakat fitrah pada fakir miskin.

3) Keramaian

Dalam agama Hindu keramaian mempunyai maksud menghormat kepada dewa-dewa, diganti keramaian menghormat hari-hari raya Islam.

Karena orang Jawa suka gamelan, maka pada hari raya Islam yaitu hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, sebaiknya dalam masjid juga diadakan gamelan, agar orang-orang tertarik. Jika sudah berkumpul kemudian diberi pelajaran tentang agama Islam. Dan untuk keperluan itu para wali menciptakan seperangkat gamelan yang dinamakan Kyai Sekati.

Usul dari Sunan Kalijaga tersebut disepakati oleh wali yang lainnya dan Raden Patah, yaitu pada hari lahir Nabi Muhamad yaitu pada 12 Mulud, dalam masjid dipukul gamelan. Tanggal 12 Mulud selain merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW juga merupakan hari wafat beliau. Ternyata banyak orang yang berduyun-duyun datang ke masjid untuk mendengarkan bunyi gamelan. Orang-orang tersebut datang ke masjid walaupun rumahnya jauh, sehingga mereka bermalam di alun-alun atau sekitar masjid.

Pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut, selain rakyat, para bupati pesisir juga datang ke kota kerajaan untuk memberi sembah pada raja. Mereka datang beberapa hari sebelum tanggal 12 Mulud dan membuat rumah di alun-alun untuk bermalam. Pada tanggal 12 Mulud tersebut, bupati menghadap raja dan kemudian menggiring raja ke masjid. Karena banyaknya orang yang menggiring raja tersebut, timbul perkataan ”Garebeg” yang berasal dari kata ”anggrubyung” yang berarti menggiring.

Orang-orang yang datang di halaman masjid itu disuruh untuk mendengarkan pidato-pidato tentang ajaran agama Islam yang mudah-mudah dahulu. Pertama mereka diberi tahu maksudnya syahadat dan bagaimana bunyinya. Dari itulah timbul kata sekaten yang berasal dari bahasa Arab ”syahadatain”. Kalimat syahadat merupakan suatu kalimat yang harus dibaca oleh seseorang untuk masuk Islam, yang mempunyai arti: tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat syahadat itu juga ditulis di atas pintu gerbang masjid. Karena banyak orang yang datang berduyun-duyun ke masjid dan banyak yang bermalam, maka banyak pula orang yang berjualan di sekitar masjid dan alun-alun.

Sekaten selain berasal dari kata syahadatain, juga berasal dari kata:

1) Sahutain : menghentikan atau menghindari perkara dua, yakni sifat lacur dan menyeleweng.

2) Sakhatain : menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan karena watak tersebut sumber kerusakan.

3) Sakhotain : menamankan perkara dua, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan.

4) Sekati : setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk.

5) Sekat : batas, orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan.

Tradisi sekaten yang dirayakan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW tersebut tetap dilestarikan oleh raja-raja yang memerintahkan berikutnya hingga masa Mataram. Pada jaman kerajaan Mataram hingga akhirnya pindah ke Surakarta, sekaten diadakan untuk kepentingan politik, yaitu mengetahui kesetiaan para bupati yang ada di wilayah kerajaan. Pada perayaan sekaten para bupati harus datang untuk menyerahkan upeti dan menghaturkan sembah baktinya kepada raja. Apabila bupati tersebut berhalangan hadir, maka harus diwakili oleh pihak kerajaan. Hal itu dilakukan karena bila bupati tidak hadir pada perayaan sekaten diartikan sebagai bentuk pembangkangan terhadap raja.

Perayaan sekaten yang diadakan oleh kerajaan Mataram, selain bertujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW juga untuk menunjukkan bahwa raja yang berkuasa masih ada hubungan dengan Nabi Muhammad, utusan Allah. Sekaten juga berperan di bidang politik dan ekonomi, karena dengan adanya sekaten para bupati mancanagari harus datang memberi upeti dan kehadirannya di upacara sekaten sebagai tanda kesetiaan kepada raja yang memerintah. Dengan perkembangan jaman, sekaten juga dimanfaatkan dalam sektor perdagangan. Perayaan sekaten sebagai ladang masyarakat untuk berdagang dan semakin membuat marak perayaan sekaten. Selain untuk mendengarkan gamelan, para pengunjung dapat membeli berbagai makanan khas sekaten, juga mainan anak-anak.

2. Prosesi dan Nilai Simbolis Dalam Upacara Tradisi Sekaten

a. Prosesi upacara Tradisi Sekaten

Upacara Tradisi Sekaten merupakan warisan budaya dari nenek moyang yang masih dilestarikan dan dipertahankan hingga sekarang. Upacara ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kelurahan Baluwarti pada khususnya dan masyarakat Surakarta pada umumnya. Pelaksanaan upacara ini hingga sekarang masih tetap dilaksanakan setiap tahunnya. Upacara Tradisi Sekaten merupakan suatu peristiwa tradisional yang sangat populer serta senantiasa menarik perhatian puluhan ribu pengunjung, tidak saja datang dari daerah sekitar Keraton Kasunanan Surakarta akan tetapi juga dari tempat-tempat yang jauh. Seperti yang diungkapkan oleh bapak Walimin selaku abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta, bahwa pengunjung tidak hanya berasal dari kota surakarta saja, namun daerah di sekitarnya seperti Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Karanganyar, dan Klaten. Bahkan akhir-akhir ini perayaan sekaten juga menarik perhatian banyak wisatawan dan orang asing. Namun meski demikian sangat disayangkan bahwa lama kelamaan perkembangannya menjadi seperti keramaian biasa, sebab para pengunjungnya kebanyakan sudah lupa atau sama sekali tidak mengerti akan arti yang sesungguhnya dari perayaan sekaten tersebut. Adapun waktu pelaksanaannya bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanggal 5 sampai dengan 12 Rabiul Awal. Atau dalam perhitungan Jawa jatuh pada tanggal 5 sampai dengan 12 Mulud. G.P.H. Puger menjelaskan, bahwa upacara ini merupakan momentum sebagai wilujengan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME atas segala limpahan nikmat dan karunia yang diberikan. Untuk tahun 2006, pelaksanaan Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta jatuh pada bulan Mulud, tanggal 02 April 2006 tepatnya pada Minggu Wage.

Perayaan sekaten dimulai pada tanggal 5 Rabiul Awal dan berakhir dengan Garebeg Mulud tanggal 12 Rabiul Awal yang ditandai dengan keluarnya gunungan. Gunungan berasal dari kata gunung, terdiri dari berbagai jenis makanan dan sayuran yang diatur bersusun meninggi menyerupai gunung.

Pada hari pertama perayaan sekaten tanggal 5 Rabiul Awal (2 April 2006), diawali dengan dikeluarkannya dua buah gamelan yang merupakan peninggalan jaman Demak dari dalam keraton. Dua buah gamelan itu dibawa dari dalam keraton lewat alun-alun kemudian dibawa ke Masjid Agung. Sebelum dikeluarkan dari keraton diadakan selamatan dengan diberi doa terlebih dahulu dan diberi sesajen. Setelah diadakan serah terima dari utusan keraton kepada penghulu masjid, gamelan ditempatkan di Bangsal Pradonggo di selatan dan utara halaman muka Masjid Agung Surakarta. Gamelan mulai dibunyikan ketika sudah ada utusan dari keraton yang memerintahkan untuk membunyikan gamelan, yaitu pada pukul empat sore. Dua buah gamelan tersebut bernama Kyai Guntur Madu, yaitu berada di sebelah selatan yang melambangkan syahadat tauhid. Kyai Guntur Madu merupakan peninggalan Pakubuwana IV, yaitu tahun 1718 Saka yang ditandai dengan sengkalan Naga Raja Nitih Tunggal. Gamelan yang lainnya bernama Kyai Guntur Sari, berada di sebelah utara dan melambangkan syahadat Rosul. Kyai Guntur Sari merupakan peninggalan Sultan Agung Hanyokusumo pada tahun 1566 Saka. Selama perayaan sekaten selama satu minggu, Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari ditabuh secara bergantian.

Pada tanggal 5 Rabiul Awal tersebut, sebagai awal perayaan sekaten, yang lebih dulu ditabuh adalah Kyai Guntur Madu dengan memperdengarkan gending Rambu. Rambu berasal dari bahasa Arab ‘Robbuna’ yang berarti Allah Tuhanku. Rambu mengisyaratkan gending yang ditabuh khusus untuk penghormatan kepada Tuhan. Sedangkan Kyai Guntur Sari memperdengarkan gending “Rangkung” yang berasal dari bahasa Arab “Roukhun” yang berarti jiwa besar atau jiwa yang agung. Rangkung menurut etimologi atau lebih tepatnya kerata basa atau jarwa dhasaknya berasal dari kata ‘barang kakung’ yang menginterpretasikan pada seorang Nabi, Khalifah, dan Raja-Raja Mataram yang kesemuanya laki-laki. Sedangkan menurut G.P.H. Puger berpendapat bahwa gending-gending yang pertama dibunyikan, Rambu dan Rangkung adalah nama dua jin Islam yang berbincang dan sangat setuju atas usaha yang dilakukan Wali songo dalam penyebaran agama Islam melalui media gamelan.

Gamelan sekaten yang mulai dibunyikan pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul empat sore merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak orang, sehingga masyarakat mulai berbondong-bondong datang ke Masjid Agung untuk mendengarkan gamelan dipukul pertama kalinya. Menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang memakan sirih tepat pada saat gamelan sekaten berbunyi untuk pertama kalinya akan awet muda. Maka banyak orang yang berjualan sirih pada perayaan sekaten. Namun G.P.H. Puger menanggapi mitos tersebut dengan pemikiran yang logis. Diungkapkannya bahwa pernyataan mitos yang sangat dipercaya masyarakat tersebut menandakan pada jaman dahulu sudah dikenal adanya ilmu kesehatan. Terbukti bahwa masyarakat dianjurkan makan sirih yang mempunyai banyak fungsi untuk kesehatan tubuh. Karena kandungan sirih tersebut dapat mengobati berbagai macam penyakit, menyehatkan gigi, berfungsi dalam pencernaan, dan akan menyegarkan badan. Selain itu banyak kita jumpai jika musim sekaten tiba di areal halaman Masjid Agung akan dipenuhi oleh penjual yang ikut meramaikan perayaan sekaten dengan menjual berbagai makanan ataupun berbagai barang khas dari sekaten, seperti misal telur asin, jenang, sirih, pecut, dan mainan anak-anak.

Kemudian dua buah gamelan tersebut dibunyikan secara bergantian tiap harinya selama perayaan sekaten. Gamelan tersebut tiap pagi mulai dibunyikan pada pukul sembilan, waktu Ashar dan Dzuhur berhenti, kemudian mulai lagi dan berhenti lagi waktu Maghrib dan Isya. Setelah Isya dibunyikan lagi sampai pukul 12 malam. Bila perayaan sekaten jatuh pada hari Jumat, gamelan tidak dibunyikan mulai Maghrib sampai siang, karena hari Jumat merupakan hari mulia bagi orang Islam. Gamelan tersebut berhenti pada waktu-waktu sholat karena memberikan kesempatan kepada penabuh gamelan itu sendiri maupun bagi masyarakat yang mendengarkannya untuk menjalankan kewajiban sholat. Sehingga fungsi perayaan sekaten sebagai syiar Islam tetap terpelihara.

Setelah perayaan sekaten berlangsung tujuh hari, maka tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal, yaitu hari lahir Nabi Muhammad SAW diadakan upacara Garebeg yaitu upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keraton. Gunungan dibuat beberapa hari sebelum perayaan Garebeg Mulud oleh abdi dalem khusus yang ditunjuk oleh sinuhun. Gunungan tersebut dikeluarkan dari keraton menuju Masjid Agung. Dari sinilah raja mengeluarkan sepasang gunungan pada waktu perayaan sekaten, yaitu gunungan kakung dan gunungan putri.

1) Gunungan Kakung

Gunungan kakung berbentuk kerucut dan bagian puncaknya disebut mustaka atau kepala yang ditancapkan kue yang terbuat dari tepung beras dan dipasang melingkar rapat satu rangkaian telur asin. Di seluruh tubuh dari gunungan kakung tersebut dipasang ratusan helai kacang panjang secara melingkar rapat yang pucuknya diberi kue-kue kecil, seperti cincin. Selain dipasangi ratusan helai kacang panjang di tubuh gunungan kakung itu juga diberi sejumlah besar rangkaian lombok abang atau cabe merah yang besar-besar. Pada tubuh gunungan kakung diikat melingkar menjadi beberapa bagian sehingga menjadi bertahap-tahap. Gunungan kakung tersebut diletakkan di atas kotak yang bernama jodhang beserta lauk pauknya dan diberi alas kain berwarna merah putih. Untuk gunungan kakung alas kain yang berwarna merah di atas dan putih di bawah.

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam gunungan kakung adalah:

a). Bendera merah putih yang berjumlah lima buah sebagai lambang dari sebuah negara atau kerajaan. Warna merah bermakna semangat atau kebenaran, sedangkan warna putih berarti suci. Warna merah putih mengingatkan akan kerajaan Majapahit dengan istilah gula klapa yang melambangkan bahwa orang harus mempunyai sifat dan semangat keberanian serta kesucian.

b). Cakra sebagai puncak dan pangkat berdirinya gunungan yang mempunyai makna yaitu:

· Cakra berarti gaman atau pusaka milik Prabu Kresna yang mempunyai kekuatan dahsyat dalam menegakkan keutamaan

c). Wapen merupakan simbol yang digunakan sebagai lambang. Wapen dalam gunungan yang dimaksud adalah petunjuk bagi keselamatan dan kekuasaan dari Raja Surakarta yang bertahta.

d). Kampuh, kain yang berwarna merah putih yang menutupi jodhang tempat makanan

e). Entho-entho yaitu makanan berbentuk bulat telur yang terbuat dari tepung beras ketan yang dikeringkan hingga keras, kemudian digoreng.

f). Telur asin

g). Bermacam-macam nasi

h). Bahan-bahan perlengkapan lainnya terdiri dari tebu, cabe, daun pisang, terong, wortel, timun, kacang panjang, dan daging yang kesemuanya merupakan hasil dari bumi yang dinikmati oleh manusia. Dan juga dami (batang padi), jodang, sujen, peniti, jarum bundel, dan samir jene.

Bentuk gunungan kakung dihubungkan dengan lingga atau alat vital laki-laki yang mengacu pada nilai-nilai kehidupan yang menggambarkan adanya proses penciptaan manusia atau dihubungkan dengan asal-usul manusia. Di samping itu gunungan kakung juga menggambarkan tentang dunia dan isinya yang mencakup berbagai unsur di dalamnya seperti bumi, langit, tumbuh-tumbuhan, api, hewan, dan manusia itu sendiri dengan berbagai jenis dan sifat-sifatnya.

2) Gunungan Putri

Gunungan putri berbentuk mirip dengan payung terbuka yang bagian puncaknya (mustaka) dilapisi kue besar bertumpuk lempengan berwarna hitam dengan sekelilingnya ditancapi sejumlah kue berbentuk daun. Sedangkan di bagian batang tubuhnya ditutupi sejumlah kue ketan yang berbentuk bintang dan lingkaran yang dinamakan rengginan, di tengahnya diberi kue kecil-kecil serta di sekelilingnya diberi kue dan hiasan yang bermacam-macam bentuk. Sehingga gunungan putri nampak seperti “bunga raksasa”. Di samping berbagai bentuk kue tersebut, gunungan putri juga diberi kue yang berbentuk lingkaran-lingkaran besar terbuat dari ketan yang disebut wajik. Gunungan putri diletakkan di atas kotak atau jodang, dengan diberi kain yang berwarna putih di atas dan merah di bawah.

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam gunungan putri adalah:

a). Bendera merah putih yang berjumlah lima buah, melambangkan sebuah negara atau kerajaan. Warna merah berarti semangat atau keberanian dan warna putih berarti suci. Jadi yang dimaksud bendera merah putih adalah sebagai lambang kepada kerajaan yang berlandaskan keberanian dengan dilandasi kesucian.

b). Eter yang terbuat dari seng berbentuk jantung manusia atau bunga pisang (tuntut)

c). Kampuh penutup jodang yang terbuat dari kain mori atau lawe yang bermakna sebagai pakaian jasmani dan rohani manusia (kesusilaan dan sandang)

d). Bunga sebagai pengharum

e). Rengginan terbuat dari beras ketan yang besar

f). Jajan yang terdiri dari jadah, wajik, dan jenang, sebagai isi dari jodang

g). Pelengkap dari gunungan putri adalah:

· Bahan yang berupa makanan, yaitu kacu, terbuat dari ketan yang dibentuk bulatan kecil dan diberi warna berjumlah kurang lebih 50 buah.

· Bahan yang berupa alat, yaitu giwangan bima berjumlah 8 biji, samir jene 4 biji, sujen, daun pisang, tali, dan jodang.

Gunungan putri berjalan di belakang gunungan kakung dan gunungan anakan Jumlah gunungan putri sama dengan jumlah gunungan kakung yaitu dua belas buah. Di samping gunungan kakung dan gunungan putri ada pula gunungan kecil-kecil sebagai pelengkap, yaitu:

1) Gunungan Anakan (saradan)

Gunungan ini selalu diantara gunungan kakung dan gunungan putri. Adapun bahan yang digunakan dalam gunungan anakan adalah sebagai berikut:

a). Uang logam, banyaknya sesuai dengan Sri Susuhunan Paku Buwana yang ke berapa, misalnya yang bertahta Paku Buwana XII, jumlah uang logam juga dua belas.

b). Rengginan kecil yang berwarna merah, hitam, putih, dan jene sebanyak untuk gunungan kakung yaitu empat biji dan untuk putri sebanyak 8 biji.

c). Bunga sebagai hiasan dalam gunungan

d). Tuntut atau eter kecil

2) Ancak Cantaka

Ancak cantaka merupakan wujud dari selamatan kecil yang berupa tumpengan atau gunung kecil yang jumlahnya tidak ditentukan, tetapi biasanya 24 buah. Dimaksudkan sedekah para abdi dalem dan kerabat keraton yang dikeluarkan oleh raja karena mereka ada dalam lindungannya.Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam

a). Perlengkapan nasi yang merupakan lambang dari kemakmuran kehidupan rakyat, jenisnya ada tiga yaitu:

  • Sega uduk atau nasi gurih, dengan perlengkapan daging ayam (ingkung), kedelai, dan pisang raja
  • Sega janganan (nasi sayuran) dengan perlengkapan sayuran, telur masak, buah-buahan, jajan pasar, dan jenang
  • Sega asahan (nasi asahan) dengan perlengkapan sambal goreng, tahu dan tempe goreng, serundeng, dan jeroan ayam.

b). Buah-buahan atau jajan pasar, yaitu sejenis buah-buahan yang dijual di pasar.

Upacara garebeg merupakan penyempurnaan dari upacara Hindu Rajaweda, yaitu suatu upacara yang diadakan oleh seorang kepala negara di setiap permulaan tahun. Upacara Rajaweda dilakukan dengan tujuan untuk memohon berkah dewa bagi keselamatan negara dan penduduknya. Pada suatu ketika wilayah kerajaan ditimpa suatu musibah yaitu wabah penyakit yang mengakibatkan kekacauan dan kegelisahan di seluruh negeri. Untuk menghilangkan wabah tersebut , raja menitahkan agar rakyatnya membersihkan segala sesuatu dengan teliti. Pembersihan itu sampai juga ke pelosok desa. Pembersihan itu sampai juga ke pelosok desa. Pembersihan umum ini waktunya sama dengan Rajaweda. Alhasil wabah itu bisa hilang. Dari sinilah asal upacara bersih desa. Setelah agama Islam masuk, upacara tersebut masih tetap dilaksanakan tetapi disertai dengan doa-doa Islam.

Adapun pada Upacara Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta ada 24 macam gunungan yang dibuat, yang terdiri dari 12 buah gunungan kakung (laki-laki) dan 12 buah gunungan putri. Di sela-sela itu terdapat anak-anakan atau saradan dan 24 buah ancak cantaka. .Namun dalam pelaksanaan Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta tidak harus sebanyak 24 buah. Hal itu terjadi karena keraton tidak mempunyai daerah kekuasaan lagi. Ketika keraton masih memiliki daerah kekuasaan, pada saat garebeg Mulud membuat gunungan sebanyak 24 karena gunungan tersebut dibagikan pada daerah-daerah kekusaan tersebut. Sekarang karena daerah kekuasaannya telah hilang, keraton hanya membuat gunungan yang utama, yaitu sepasang gunungan, gunungan laki-laki dan perempuan. Sepasang gunungan itu merupakan suatu bentuk selamatan yang dilaksanakan oleh pihak keraton agar terhindar dari segala macam bahaya. Pelaksanaan selamatan gunungan yang merupakan perwujudan rasa syukur raja terhadap Allah SWT atas semua anugerah yang telah dilimpahkan selama beliau memerintah. Maka dalam mensyukuri nikmat raja tersebut raja mengeluarkan sebagian kekayaannya untuk rakyat. Namun dalam pelaksanaan terlebih dahulu dibacakan doa dengan harapan Allah memberi berkah atas sedekah yang dikeluarkan, sehingga selamat raja, negara, dan rakyatnya.

Doa yang dipanjatkan kepada Allah sebelum gunungan itu diperebutkan oleh masyarakat, dipimpin oleh penghulu keraton di dalam masjid. Adapun doa yang dipanjatkan dalam upacara pada gunungan itu intinya untuk memohon keselamatan pada diri Sinuhun, istri, dan para putranya, pejabat, serta rakyat semuanya, sehingga dapat menjalani hidup dengan aman, tenteram, nyaman, sejahtera, dan bahagia di dalam perlindungan negara yang adil dan makmur.

Pada tanggal 12 Rabiul Awal (9 April 2006), tepatnya pada siang hari kira-kira pada pukul sepuluh, gunungan setelah diberi doa dan serangkaian sesaji, dikeluarkan dari keraton disertai dengan arak-arakan dari keraton. Sebelum dikeluarkan gunungan, terlebih dahulu gamelan yang ada di Masjid Agung dibawa kembali ke keraton. Gunungan itu dibawa dari keraton lewat alun-alun lalu ke Masjid Agung untuk diberi doa terlebih dahulu oleh penghulu keraton. Iring-iringan pembawa gunungan itu di bagian paling depan adalah Canthangbalung, kemudian kesatuan prajurit keraton, sentana dalem, pembawa gunungan, dan abdi dalem. Canthangbalung adalah abdi dalem yang bertugas membuat orang lain menjadi gembira. Disebut Canthangbalung karena mereka membawa kepyak dari tulang yang diselipkan pada jari-jari dan selalu dibunyikan dengan irama “crek, crek, crek”. (lihat pada lampiran 1) Mengenai nama canthangbalung, G.P.H. Puger mengatakan bahwa Canthangbalung adalah nama yang diberikan kepada brahmana yang memberi sesaji di tempat suci. Dan adanya pemakaian boreh pada badan Canthangbalung memberikan indikasi terhadap kebiasaan pendeta Hindu yang memboreh badannya dengan arak atau tuak sebagai syarat untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan yang dimaksud adalah agar tubuhnya dapat dimasuki roh halus, sehingga bisa membantu manusia. Canthangbalung dengan gayanya yang lucu dan menggelikandimaksudkan untuk menguji kesungguhan dan keteguhan iman pepatih dalem dalam mengemban perintah ingkang Sinuhun. Jumlah canthangbalung yang dua orang mengikuti konsep dualis yang berlaku dalam keraton yang saling melengkapi.

Pada perayaan sekaten Sinuhun berkenan datang ke Masjid Agung untuk ikut berdoa bersama atas gunungan tersebut sebagai rasa syukur Sinuhun kepada Allah SWT. Setelah diberi doa oleh penghulu keraton dan juga disaksikan oleh Sinuhun, gunungan tersebut dibagikan kepada semua yang hadir, tidak ketinggalan dikirimkan kepada Sinuhun, para sentana dalem, dan para punggawa kerajaan. Kemudian gunungan tersebut dibawa keluar dari Masjid Agung untuk diberikan kepada rakyat. Karena banyak rakyat yang ingin mendapatkan gunungan itu, maka mereka memperebutkan gunungan itu dengan dirayah. Hal itu terjadi karena telah menjadi keprcayaan masyarakat bahwa isi gunungan tersebut dapat mendatangkan berkah bagi siapa yang memperolehnya. Masyarakat yang datang berasal dari berbagai daerah bahkan dari luar Surakarta, seperti Klaten, Sukoharjo, Tawangmangu, Kartosuro, dan kebanyakan adalah orang tua bahkan lanjut usia. Dituturkan oleh Bapak Bejo selaku abdi dalem Keraton, bahwa masyarakat yang ikut meramaikan sekaten adalah orang tua atau sepuh dari berbagai daerah yang datang untuk rayahan gunungan sekaten. Antusias yang masih begitu besar itu menandakan bahwa Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta masih banyak masyarakat pendukungnya. Untuk meramaikannya, satu bulan sebelum perayaan sekaten disambut dengan keramaian berbagai sektor dagang yang dipusatkan di halaman Masjid Agung Surakarta. Masyarakat dari berbagai daerah memanfaatkan pula momentum sekaten untuk berjualan yang merupakan ladang hangat dalam sektor ekonomi.

Upacara Tradisi Sekaten yang monumental dilaksanakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW oleh Keraton Kasunanan Surakarta digunakan sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah yang diberikan oleh Allah SWT , sehingga Allah akan selalu memberikan perlindungan. Dengan selalu mensyukuri karunia Allah diharapkan agar anggota komunitas keraton ingat akan kebesaran-Nya, sehingga akan terhindar dari bahaya dan musibah. Upacara sekaten merupakan bentuk sinkretisasi pra-Hindu, Hindu dan Islam, yang hingga sekarang masih bisa kita saksikan setiap tahun pada bulan Mulud atau Rabiul Awal.

b. Nilai Simbolis dalam Upacara Tradisi Sekaten

Setiap pelaksanaan upacara tradisional tentu terdapat sesaji yang disiapkan yang merupakan simbol atau lambang yang bermakna positif. Simbol atau lambang itu mengandung norma atau aturan yang mencerminkan nilai atau asumsi apa yang baik dan apa yang tidak baik, sehingga dapat dipakai sebagai pengendalian sosial dan pedoman berperilaku bagi masyarakat pendukungnya. Simbol atau lambang ini mengandung pesan-pesan yang terselubung, serta nilai-nilai luhur yang ditujukan kepada masyarakat yang bersangkutan. Biasanya hal ini diwujudkan melalui tanda atau isyarat-isyarat tertentu sehingga memerlukan pemahaman tersendiri untuk mengetahui makna yang terkandung dalam lambang atau simbol tersebut. Nilai, aturan, dan norma ini tidak saja berfungsi sebagai pengatur antarindividu dalam masyarakat, tetapi juga menata hubungan manusia dengan alam lingkungannya, terutama kepada Sang Pencipta.

Dalam Upacara Tradisi Sekaten terdapat gunungan yang merupakan simbol atau lambang yang bermakna positif. Berbagai jenis makanan yang disiapkan dalam gunungan tersebut mengandung nilai-nilai luhur dan harapan yang baik bagi masyarakat pendukungnya. Adapun nilai-nilai simbolis yang terkandung dalam setiap makanan atau sesaji yang terdapat dalam gunungan, canthangbalung, sirih, dan pecut yang terdapat pada Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta tersebut sebagai berikut:

1) Gunungan kakung; Gunungan selain bermakna kesuburan juga mempunyai arti simbolik lain, gunungan kakung melambangkan sifat baik, sedangkan gunungan putri melambangkan sifat buruk. Dua sifat ini bila berdiri sendiri akan menimbulkan sifat perusak, sehingga dua sifat ini harus disatukan. Disinilah peran raja untuk menyatukan dua kekuatan itu sehingga akan menjadi satu kekuatan yang besar untuk kejayaan keraton. Dari sinilah raja mengeluarkan sepasang gunungan pada waktu perayaan sekaten. Bentuk gunungan kakung dihubungkan dengan lingga atau alat vital laki-laki yang mengacu pada nilai-nilai kehidupan yang menggambarkan adanya proses penciptaan manusia atau dihubungkan dengan asal-usul manusia. Di samping itu gunungan kakung juga menggambarkan tentang dunia dan isinya yang mencakup berbagai unsur didalamnya, seperti bumi, langit, tumbuh-tumbuhan, api, hewan, dan manusia itu sendiri dengan berbagai jenis dan sifat-sifatnya. Manusia yang dimaksud adalah seorang ksatria utama yang menggambarkan seorang figur manusia ideal bagi orang Jawa.

2) Bendera merah putih; Bendera ini ditempatkan pada ujung gunungan, berjumlah lima buah sebagai lambang dari sebuah negara atau kerajaan. Warna merah bermakna semangat atau kebenaran, sedangkan warna putih berarti suci. Warna merah putih mengingatkan akan Kerajaan Majapahit dengan istilah gula klapa yang melambangkan bahwa orang harus mempunyai sifat dan semangat keberanian serta kesucian.

3) Cakra; Cakra sebagai puncak dari pangkal berdirinya gunungan yang mempunyai makna gaman atau pusaka milik dari Prabu Kresna yang mempunyai kekuatan dahsyat dalam menegakkan keutamaan. Selain itu cakra sebagai simbol dari hati yang merupakan petunjuk dan pemimpin dalam kehidupan. Perjalanan cakra adalah berputar yang bermakna bahwa roda kehidupan manusia itu selalu berputar, manusia harus selalu ingat kepada Tuhan dalam keadaan senang maupun susah.

4) Wapen; Wapen merupakan simbol yang digunakan sebagai lambang. Adapun wapen dalam gunungan yang dimaksud adalah petunjuk bagi keselamatan dan kekuasaan dari Raja Surakarta yang bertahta.

5) Kampuh; Kampuh adalah kain berwarna merah putih yang menutupi jodhang (tempat makanan) yang bermakna :

· kesusilaan : kampuh dibuat sebagus mungkin yang membuktikan kepribadian, pepatah Jawa mengatakan ajining salira saka busana yang berarti dihormatinya seseorang karena pakaiannya.

· sandang, yang berarti pakaian yang dipakai oleh manusia. Pakaian melambangkan kenyataan hidup (senang-susah, beja-cilaka).

6) Entho-entho; Makanan berbentuk bulat telur yang terbuat dari tepung beras ketan yang dikeringkan hingga keras, kemudian digoreng. Hal ini bermakna keteguhan hati dalam menghadapi masalah kehidupan dunia.

7) Telur asin; Melambangkan amal, adapun makna lain bahwa terbagi dua bagian, bagian kuning melambangkan laki-laki, dan bagian putih adalah perempuan. Kemudian keduanya bersatu dan terjadi manusia baru.

8) Nasi; Melambangkan kemakmuran dari sebuah kerajaan.

9) Bahan perlengkapan dalam gunungan kakung seperti tebu, cabe, daun pisang, terong, wortel, timun, kacang panjang dan daging yang kesemuanya merupakan hasil dari bumi yang dinikmati manusia. Dan juga dami (batang padi), jodhang, sujen, peniti, jarum bundel, dan samir jene. Bahan-bahan hasil bumi tersebut merupakan lambang dari kesuburan bumi.

10) Gunungan putri; Bentuk gunungan putri dihubungkan dengan yoni atau alat vital perempuan. Gunungan putri melambangkan putri sejati yang menggambarkan bahwa seorang wanita harus memiliki badan dan pikiran yang dingin. Sehingga dia mempunyai penangkal untuk menahan isu-isu yang datang dari luar, baik yang menjelek-jelekkan dirinya maupun keluarganya dan dapat menyimpan rahasia manusia atau keluarganya. Adapun isi dari gunungan putri merupakan makna dan lambang dari kewajiban wanita untuk menjaga dan mengerjakan urusan belakang atau kebutuhan rumah tangga. Gunungan putri berjalan di belakang gunungan kakung dan gunungan anakan, yang merupakan simbol bahwa istri bertugas sebagai pengasuh utama dari anak dan bertanggungjawab menjaga keselamatan rumah tangga.

11) Eter; Terbuat dari seng berbentuk jantung manusia atau bunga pisang (tuntut) yang bermakna sebagai api yang menyala, yaitu semangat hidup yang menyala terus ssebagaimana modang (dalam batik menggambarkan nyala api atau uriping latu). Eter juga berwujud jantung yang merupakan pusat kebatinan atau rohani, hal ini ada pertimbangan kewajiban lahir batin atau dengan Allah dan sesama manusia.

12) Bunga sebagai pengharum; Mempunyai dua makna yang terkandung di dalamnya, yaitu makna lahiriah dapat mendekatkan atau mendatangkan berkah bagi yang cocok dan menjauhkan bagi yang tidak cocok. Sedangkan makna batiniah yaitu kemuliaan atau keharuman jati diri manusia yang diperoleh dengan amal yang baik.

13) Jajan; Terdiri dari jadah, wajik, dan jenang sebagai isi dari jodhang yang menggambarkan hasil karya wanita dalam dapur atau rumah tangga.

14) Uang logam; Bermakna sebagai sarana memperoleh kebutuhan lahiriah manusia dalam hidup di dunia, dan bermakna batiniah sebagai simbol sebagai cobaan atau ujian hidup manusia yang dapat menggunakan dan mendatangkan keresahan bagi yang dapat menggunakan dan mendatangkan keresahan bagi yang tidak dapat menggunakan.

15) Gunungan anakan; Bermakna bahwa anak dari sebuah rumah tangga yang sudah tentu diharapkan oleh orang tuanya, anak dapat menyambung sejarah keluarga atau dapat mikul dhuwur mendhem jero, artinya menjunjung harkat dan martabat orang tua dengan cara menjaga nama baik orang tua atau dalam agama Islam dikenal dengan istilah anak sholeh yang berbakti dan mau mendoakan orang tuanya.

16) Ancak cantaka; Merupakan sedekah para abdi dalem dan kerabat keraton yang dikeluarkan oleh raja karena mereka ada di dalam lindungan-Nya. Melambangkan kehidupan yang makmur tercukupi kebutuhan jasmani dan rohani. Terbinanya kehidupan beragama dan tersedianya kebutuhan di dunia yaitu sandang, pangan, dan papan.

17) Sega uduk atau nasi gurih dengan perlengkapan daging ayam (ingkung), kedelai, dan pisang raja, maksudnya sebagai lambang kehidupan yang enak atau baik, sedang yang dituju adalah untuk para Nabi dan wali.

18) Sega janganan atau nasi sayuran; Melambangkan kehidupan tercukupi (duniawi), sedang yang dituju adalah para roh dan danyang. Dalam kejawen dikenal dengan kiblat papat lima pancer yang mempengaruhi kehidupan manusia.

19) Sega asahan; Bermakna untuk menyucikan lahir dan batin.

20) Buah-buahan atau jajan pasar; Bermakna sebagai penolak balak atau menyingkirkan segala sumber bahaya atau bencana yang akan terjadi.

21) Sirih; Menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang memakan sirih tepat pada saat gamelan sekaten berbunyi untuk pertama kalinya akan awet muda. Maka banyak orang yang berjualan sirih pada perayaan sekaten.

22) Canthangbalung; Canthangbalung adalah abdi dalem yang bertugas membuat orang lain menjadi gembira. Disebut Canthangbalung karena mereka membawa kepyak dari tulang yang diselipkan pada jari-jari dan selalu dibunyikan dengan irama “crek, crek, crek”. Mengenai nama Canthangbalung, G.P.H. Puger mengatakan bahwa Canthangbalung adalah nama yang diberikan kepada brahmana yang memberi sesaji di tempat suci. Dan adanya pemakaian boreh pada badan Canthangbalung memberikan indikasi terhadap kebiasaan pendeta Hindu yang memboreh badannya dengan arak atau tuak sebagai syarat untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan yang dimaksud adalah agar tubuhnya dapat dimasuki roh halus, sehingga bisa membantu manusia. Canthangbalung dengan gayanya yang lucu dan menggelikan dimaksudkan untuk dua orang mengikuti konsep dualis yang berlaku menguji kesungguhan dan keteguhan iman pepatih dalem dalam mengemban perintah ingkang Sinuhun.

23) Pecut; Pecut adalah salah satu barang yang dijual dalam sekaten. Oleh masyarakat, pecut yang dibeli saat sekaten dipercaya dapat menghindarkan ternak dari penyakit dan berkembang biak bagi para peternak sapi/kambing.

3. Pelaksanaan Pembelajaran Cerita Rakyat di Sekolah

Karya sastra, yaitu puisi, prosa (cerpen dan novel), dan drama adalah materi yang harus diajarkan dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah. Penyampaian materi sastra dalam mata pelajaran tersebut bermanfaat, terutama dalam menerampilkan berbahasa, meningkatkan cipta dan rasa, menghaluskan watak, dan menambah pengalaman budaya siswa. Manfaat itu relevan pula dengan salah satu tujuan dan fungsi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia seperti yang tertera dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang berlaku, yaitu sebagai sarana pemahaman keberanekaragaman budaya Indonesia melalui keanekaragaman kasusastraan Indonesia.

Budaya Indonesia memang sangat beragam dan hal itu akan tampak dalam khazanah sastra Indonesia yang terwujud dalam sastra-sastra daerah di seluruh nusantara. Keanekaragaman budaya yang tercermin dalam karya sastra itu hanya dapat dipahami secara nasional apabila menggunakan bahasa nasional pula. Oleh sebab itu, transformasi sastra dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia merupakan suatu keharusan. Setakat ini siswa pada setiap jenjang sekolah telah sangat mengenal cerita rakyat daerah yang sudah menasional, seperti Sangkuriang, yang bersumber dari cerita rakyat daerah Sunda, Malin Kundang, yang bersumber dari cerita rakyat daerah Minangkabau, atau Bawang Merah dan Bawang Putih yang bersumber dari cerita rakyat daerah Jawa Tengah. Namun, apabila membaca hasil penelitian yang berkenaan dengan cerita rakyat, maka betapa banyak dan beragamnya cerita rakyat nusantara itu. Cerita rakyat yang ribuan itu akan tetap menjadi khasanah budaya daerah setempat apabila kita tidak berusaha mentransformasikannya ke dalam bahasa Indonesia, padahal keanekaragaman sastra nusantara mesti dibaca secara luas oleh seluruh bangsa Indonesia, sehingga kita akan mengetahui juga hal-hal yang sama di antara sastra daerah yang beragam itu.

Sebagai upaya benteng diri dari masuknya budaya asing yang semakin beragam dan tidak sesuai dengan jiwa serta kepribadian bangsa Indonesia, foklor dari berbagai macam daerah dapat ditampilkan sebagai penyaring budaya asing yang tidak sesuai tersebut. Yaitu dengan adanya pembelajaran sastra di sekolah, dalam hal ini kajian nilai luhur dan budi pekerti yang dapat ditanamkan kepada siswa dari cerita rakyat yang merupakan kekayaan budaya Indonesia.

Salah satu cerita rakyat daerah Surakarta yang sarat dengan nilai pendidikan (budi pekerti) dan simbolis yang tinggi adalah cerita rakyat sekaten. Untuk itu pengajaran cerita rakyat ini dapat mendukung dalam upaya pelestarian budaya. Supaya siswa mengetahui cerita rakyat budaya setempat, dan mengetahui bagaimana cerita rakyat sekaten yang berada di Keraton Kasunanan Surakarta itu lebih detail. Sehingga materi yang di dapatkan oleh siswa lebih variatif dengan memperkenalkan cerita rakyat daerah sendiri serta menambah pelajaran tentang nilai budi pekerti dan religi yang menjadi benteng dari budaya asing yang tidak sesuai dengan jiwa serta kepribadian bangsa Indonesia.

Cerita rakyat itu sendiri dibangun oleh beberapa unsur pendukungnya. Cerita tersebut akan menjadi suatu kesatuan cerita yang utuh dengan memiliki beberapa komponen. Salah satunya komponen yang terdapat dalam cerita rakyat adalah unsur-unsar intrinsik yang merupakan unsur pendukung yang penting. Dengan adanya unsur intrinsik akan memudahkan menganalisis cerita dengan mengeksplisitkan dan mendramatisasikan dalam membaca dan memahami karya sastra, dalam hal ini adalah cerita rakyat.

Cerita rakyat yang melatarbelakangi Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta, unsur intrinsik dalam cerita rakyat, prosesi, dan nilai simbolis mempunyai keterkaitan sehingga membentuk suatu cerita rakyat yang utuh. Sebagai implementasinya dalam bidang pendidikan, cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dapat dijadikan sebagai bahan ajar untuk materi apresiasi sastra cerita rakyat di sekolah, baik SD, SMP, dan SMA. Cerita rakyat ini mempunyai nilai-nilai luhur yang dapat menanamkan budi pekerti siswa, yaitu dengan mengambil contoh-contoh serta amanat yang terkandung dalam cerita. Dengan memperdalam aneka budaya yang terdapat di Indonesia diharapkan dapat menjadi benteng diri dari budaya asing yang tidak sesuai dengan jiwa serta kepribadian bangsa indonesia. Untuk itu penanaman nilai budi pekerti kepada generasi muda dengan pengenalan folklor dari berbagai macam daerah penting untuk dilakukan sebagai pondasi untuk mempertebal rasa cinta dan bangga dengan budaya Indonesia.

Berdasarkan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia sekarang ini diharapkan guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya dan daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional, maka cerita rakyat sekaten ini dapat dijadikan sebagai masukan bahan ajar yang cukup baik. Selain dapat melestarikan budaya daerah sendiri, juga untuk memperkenalkan folklor setempat daerah Surakarta kepada siswa dengan pengajaran cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta. Penyebarluasan folklor untuk pewarisan nilai-nilai budaya ini dapat dilakukan yaitu salah satunya dengan menggali nilai-nilai luhur yang terdapat dalam cerita rakyat. Selain dapat menambah pengetahuan dan wacana baru untuk siswa, sekaligus juga dapat mengangkat cerita rakyat sekaten ini menjadi bahan ajarnya. Sesuai dengan standar kompetensi mendengarkan, cerita rakyat ini mempunyai unsur-unsur intrinsik yang dapat dikaji beserta nilai simbolis yang terkandung di dalamnya. Jadi antara cerita rakyat yang melatarbelakangi Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta, unsur-unsur intrinsik, prosesi, dan nilai simbolis saling berkaitan untuk menjadi satu kesatuan cerita yang utuh dan sarat nilai untuk dikaji lebih dalam oleh siswa sebagai bahan ajar cerita rakyat dalam pengajaran apresiasi sastra.

a. Penerapan Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten sebagai Bahan Ajar

Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tepatnya pada bidang apresiasi sastra, cerita rakyat merupakan salah satu materi pokok yang terdapat di dalamnya. Pengajaran cerita rakyat dilaksanakan pada semester dua untuk siswa kelas X di SMA, semester satu untuk siswa kelas VII SMP, dan semester satu untuk siswa kelas V SD. Dalam penerapan folklor (Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta) sebagai objek kajian penelitian, peneliti memilih SMA Muhamadiyah 3 Surakarta, SMP Negeri 16 Surakarta, dan SD Muhamadiyah 22 Surakarta sebagai sampel tempat penerapan bahan ajar cerita rakyat tersebut. Tempat ini dipilih oleh peneliti dengan berbagai pertimbangan yang salah satunya adalah masyarakat Surakarta sebagai masyarakat pendukung dan pemilik folklor Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta. Dan tidak ada salahnya sebagai masyarakat pemilik folklor mengetahui cerita rakyat yang ada di daerah setempat, salah satunya adalah Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta.

Penerapan pengajaran materi folklor Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta ini dilaksanakan di kelas X SMA Muhamadiyah 3 Surakarta, dengan guru pengampunya Bapak Rahadi, S. Pd., di kelas VII SMP Negeri 16 Surakarta dengan guru pengampunya Ibu.Dewi Sari Anugerah, S. Pd. Dan Ibu. K. Sri Hartini, S. Pd, dan di kelas V SD Muhamadiyah 22 Surakarta dengan guru pengampunya Ibu Widyaningrum, S.Pd. Untuk keperluan tersebut peneliti juga melakukan observasi langsung sebagai partisipan pasif saat pengajaran folklor di kelas X.1 dan X.2 SMA Muhamadiyah 3 Surakarta. Peneliti mengamati pelaksanaan dan respon siswa terhadap cerita rakyat yang diajarkan dan juga menganalisis hasil pemahaman siswa yang diukur dengan soal-soal tentang sekaten beserta wawancara dengan beberapa siswa dengan menggunakan purposive sampling. Beberapa siswa yang dijadikan peneliti sebagai informan adalah Galih Tri Nugroho Jati dan Tri Nopiyanita dari kelas X.1 serta Pramono dan Hastuti dari kelas X.2. Pengajaran folklor cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta ini dilaksanakan pada hari Selasa, 20 Februari 2007, tepatnya pada jam pelajaran ke 4-5 di kelas X.1 dan jam pelajaran ke 6-7 di kelas X.2.

Dari hasil pengamatan dan analisis yang dilakukan oleh peneliti, siswa cukup memberikan respon positif dengan terlihat adanya proses interaksi tanya jawab siswa seputar folklor dan sekaten. Seperti yang dilakukan oleh beberapa siswa yang antara lain Galih (X.1) yang menanyakan bagaimana bentuk dari gunungan kakung dan gunungan putri dalam Sekaten, dan untuk apakah “dirayah “ oleh masyarakat. Siswa tertarik mengikuti proses pembelajaran, karena sejauh ini siswa hanya mengetahui beberapa cerita rakyat yang sering didengar dan berasal dari daerah lain, seperti Sangkuriang, Tangkuban Perahu, Terjadinya Danau Toba dsb. Karena ternyata di daerah lokal sekitar mereka juga sarat dengan budaya yang dapat digali berbagai nilai dan cerita rakyat yang membangunnya, salah satunya adalah cerita rakyat Sekaten di Surakarta.

Setelah diberikan materi tentang folklor dan contoh folklor di daerah Surakarta tepatnya Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten oleh guru kemudian siswa diminta untuk mengerjakan soal-soal, yaitu 10 soal objektif dan 3 soal uraian tentang sekaten. Yang masing-masing bertujuan untuk mengukur pemahaman dan daya tarik siswa terhadap folklor Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta yang sebelumnya materi ini terdapat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang berlaku.

Dari evaluasi yang diperoleh melalui hasil tugas yang diberikan kepada siswa dapat peneliti analisis bahwa siswa kelas X.1 dan X.2 sebagai sampel penerapan dalam penelitian mempunyai pemahaman tentang folklor dan Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta sebagai bahan ajarnya dengan hasil yang baik, yaitu rata-rata nilai kelas X.1 adalah 7,56 dan rata-rata nilai kelas X.2 adalah 8. Bahkan ada beberapa siswa yang mendapat nilai sempurna dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan. Masing-masing siswa tersebut yang mendapat nilai 10 dan menjawab benar seluruh soal objektif yang diberikan adalah Murniasih dan Tri Nopiyanita dari kelas X.1 juga Agustyarum Pradiska Budi dan Sri Wahyuni dari kelas X.2. Hal tersebut menandakan bahwa pengajaran folklor dengan cerita rakyat sekaten dapat diserap serta dipahami dengan mudah oleh siswa. Data nilai hasil tugas yang dikerjakan oleh siswa dari soal objektif yang diberikan dapat dilihat pada lampiran 7.

Berdasarkan hasil nilai tersebut peneliti dapat merumuskan bahwa pembelajaran folklor dengan Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta sebagai alternatif bahan ajar dapat diterima oleh siswa dengan baik. Bahkan hampir seluruh siswa dapat menemukan unsur intrinsik yang berupa tema, latar, penokohan, dan alur sesuai yang dimaksudkan. Kemudian setelah pembelajaran selasai beberapa siswa menanggapi dengan baik cerita rakyat yang telah diajarkan. Sejauh ini yang diketahui oleh siswa Upacara Tradisi Sekaten adalah sebatas perayaan saja yang mirip dengan pasar malam, begitu yang diungkapkan Pramono siswa kelas X.2. Tapi ternyata budaya lokal yang berada di Surakarta itu mempunyai cerita rakyat yang melatarbelakangi diselenggarakannya upacara tradisi tersebut. Bahkan sarat dengan nilai jika dikaji lebih dalam, baik nilai simbolis, agama, maupun budayanya.

b. Relevansi Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten sebagai Alternatif Bahan Ajar

Sastra mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dunia nyata, untuk itu pengajaran sastra harus dipandang sebagai sesuatu yang penting dan patut menduduki tempat yang selayaknya. Jika pengajaran sastra dilakukan secara tepat, maka pengajaran sastra dapat juga memberi sumbangan-sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan di dalam masyarakat. Pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila di dalamnya mempunyai 4 manfaat, yaitu: membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan menunjang pembentukan watak. (B. Rahmanto, 1988: 15-16)

Pengajaran cerita fiksi di SD, SMP, dan SMA yang tercantum dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menyebutkan di dalamnya adalah pengajaran cerita rakyat. Dalam hal ini guru diberi kewenangan untuk memilih bahan ajar yang relevan untuk mendukung pengajaran folklor. Salah satunya Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dapat dipakai sebagai masukan cerita rakyat dalam pengajaran apresiasi sastra yang relevan untuk SD, SMP, dan SMA di Surakarta. Peneliti menjadikan cerita rakyat tersebut sebagai alternatif bahan ajar di SMA dengan melihat adanya banyak nilai yang dapat digali dari cerita rakyat tersebut untuk diketahui kepada masyarakat pemilik folklor setempat dan sekitarnya. Selain itu juga untuk mengenalkan kepada generasi muda tentang budaya lokal di Surakarta yang harus dijaga dan dilestarikan agar tidak punah. Salah satunya dengan memasukkan folklor cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta sebagai cerita rakyat dalam pengajaran apresiasi sastra.

Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta tersebut jika digali lebih lanjut mempunyai beberapa manfaat. Salah satunya dapat membantu keterampilan berbahasa siswa. Yang dimaksudkan di sini sesuai dengan kompetensi dasar dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku dalam apresiasi sastra salah satunya adalah kemampuan kebahasaan mendengarkan dengan memahami cerita rakyat yang dituturkan. Dengan kompetensi dasar tersebut melalui media cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta, akan membantu melatih siswa dalam keterampilan membaca, dan mungkin ditambah lagi dengan keterampilan menyimak, berbicara, dan menulis yang masing-masing mempunyai hubungan erat dalam proses pemahaman cerita rakyat yang dipelajari. Untuk mengetahui isi dari cerita rakyat yang diajarkan, siswa dituntut untuk membaca dengan seksama dari teks/wacana cerita rakyat. Kemudian juga menyimak penjelasan dari guru yang mendukung untuk memperjelas pemahaman siswa tentang cerita rakyat yang dibaca. Setelah siswa memahami cerita rakyat yang telah dibaca, siswa juga diharapkan dapat menceritakan kembali garis besar isi cerita rakyat dan memberikan tanggapan tentang cerita tersebut melalui keterampilan berbicaranya. Dan yang terakhir, siswa akan mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru dengan keterampilan menulisnya.

Manfaat yang kedua adalah pengajaran folklor Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta ini dapat meningkatkan pengetahuan budaya. Lebih tepatnya adalah mengetahui serta menggali lebih lanjut budaya lokal yang terdapat di daerah sendiri. Pemahaman Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta sebagai budaya lokal yang harus diketahui dan dilestarikan dapat menumbuhkan rasa bangga dan rasa ikut memiliki.

Manfaat yang ketiga adalah mengembangkan cipta dan rasa. Dalam pengajaran sastra, khususnya cerita rakyat kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indra (penglihatan, pendengaran, peraba). Dalam cerita rakyat sekaten, siswa dapat menggambarkan bagaimana keramaian dalam perayaan sekaten yang diceritakan, bagaimana rupa Canthangbalung yang dilukiskan dalam cerita yang lucu dan menggelikan, serta gunungan sekaten yang memiliki simbol-simbol dapat diketahui siswa dengan mendengarkan penjelasan guru dengan baik. Selain itu Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta juga mengandung nilai religius yang tinggi. Kebenaran mutlak akan ajaran agama yang tetap dipegang teguh meskipun diselaraskan dengan budaya yang ada melalui proses akulturasi.

Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta juga dapat bermanfaat untuk menunjang pembentukan watak siswa. Yang dimaksud di sini adalah dengan mengambil contoh-contoh teladan dari tokoh yang digambarkan dalam cerita rakyat yang di ajarkan. Cerita Rakyat Sekaten mempunyai beberapa orang tokoh, yaitu Raden Patah dan Wali Songo yang mempunyai watak yang patut untuk dicontoh, gigih dan berani dalam berjuang dan senantiasa memberitahukan kepada kita bahwa pendidikan bukan hanya diperoleh dari kegiatan formal, namun pendidikan juga dapat diperoleh dari kegiatan non formal seperti dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo.

Pengajaran sastra hendaknya dapat memberikan bantuan dalam usaha mengembangkan kualitas kepribadian siswa yang antara lain ketekunan, kepandaian, pengimajian, dan penciptaan. Dalam hal ini Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta mempunyai beberapa komponen tersebut. Cerita rakyat ini mempunyai sarat dengan nilai yang patut diketahui oleh siswa yang juga merupakan budaya lokal yang harus dilestarikan.

Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta ini jika dipakai sebagai salah satu alternatif bahan ajar dalam bidang apresiasi sastra mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD, SMP, dan SMA di Surakarta sangat tepat. Seperti yang dikemukakan G.P.H. Puger dalam wawancaranya 11 Desember 2006 di Keraton Kasunanan Surakarta, bahwa Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten ini jika dipakai sebagai bahan ajar untuk materi cerita rakyat tidak ada salahnya. Bahkan sangat bagus, karena selain memperkenalkan kepada masyarakat tentang cerita rakyat yang melatarbelakangi Upacara Tradisi Sekaten juga untuk diketahui oleh masyarakat luas bahwa sekaten juga merupakan cikal bakal dari pendidikan. Mengapa demikian? Diungkapkan juga oleh Puger bahwa sudah dari jaman dahulu telah diterapkan pendidikan, hanya saja berupa pendidikan non formal seperti dakwah yang dilakukan oleh wali songo. Dengan Sekaten yang menjadi cikal bakal pendidikan terbukti dengan pendirian Mamba’ul Ulum (sekolah Islam) yang terletak di samping Masjid Agung Surakarta. Dahulu Mamba’ul Ulum ini adalah satu-satunya sekolah yang menjadi cikal bakal pendidikan.

Berdasarkan pendapat yang disebutkan di atas, peneliti dapat simpulkan bawa cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dapat dijadikan sebagai alternatif bahan ajar untuk apresiasi sastra kelas X di SMA, kelas VII SMP, dan kelas V SD yang relevan. Baik dengan kurikulum yang berlaku maupun relevan dapat diterima dan diserap dengan mudah oleh siswa. Merupakan salah satu media pengenalan kepada generasi muda melalui pemahaman baru tentang cerita rakyat sekaten yang kemudian diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk ikut serta menjaga dan memiliki kekayaan budaya yang tumbuh di Surakarta dengan Upacara Tradisi Sekaten. Selain itu cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta yang merupakan folklor lokal yang menjadi kekayaan budaya tersebut dapat menjadi bahan masukan untuk guru Bahasa Indonesia sebagai materi ajar cerita rakyat di sekolah.

E. Simpulan dan Saran

1. Simpulan

Cerita rakyat yang melatarbelakangi diadakannya Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dimulai dengan berdirinya kerajaan Islam yang pertama, yaitu Demak. Dengan Raja Islam yang pertama, Raden Patah. Beliau berusaha menyinari seluruh pelosok negeri dengan agama Islam. Bersama dengan Wali Songo, Raden Patah mendirikan Masjid Agung di Demak. Kemudian masjid tersebut digunakan sebagai sarana dakwah dan penyebarluasan Islam, yaitu dengan memadukan budaya setempat. Dibuatlah suatu momentum bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, di dalam masjid diadakan dakwah dengan menggunakan media gamelan. Terjadilah suatu keramaian, masyarakat banyak yang datang dan sesampai di masjid mereka di syahadatkan. Banyak masyarakat yang tertarik, hingga kemudian lama-lama momentum ini disebut dengan sahadatan atau sekaten.

Prosesi Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dilaksanakan bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanggal 5 sampai dengan 12 Rabiul Awal. Untuk tahun 2006, pelaksanaan Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta jatuh pada bulan Mulud, tanggal 02 April 2006 tepatnya pada Minggu Wage. Pada hari pertama perayaan sekaten tanggal 5 Rabiul Awal (2 April 2006), diawali dengan dikeluarkannya dua buah gamelan yang merupakan peninggalan jaman Demak dari dalam keraton. Dua buah gamelan itu dibawa dari dalam keraton lewat alun-alun kemudian dibawa ke Masjid Agung. Sebelum dikeluarkan dari keraton diadakan selamatan dengan diberi doa terlebih dahulu dan diberi sesajen. Setelah diadakan serah terima dari utusan keraton kepada penghulu masjid, gamelan ditempatkan di Bangsal Pradonggo di selatan dan utara halaman muka Masjid Agung Surakarta. Gamelan mulai dibunyikan ketika sudah ada utusan dari keraton yang memerintahkan untuk membunyikan gamelan, yaitu pada pukul empat sore.

Dua buah gamelan tersebut bernama Kyai Guntur Madu, yaitu berada di sebelah selatan yang melambangkan syahadat tauhid. Dan Kyai Guntur Sari di sebelah utara Pendopo Masjid Agung yang melambangkan syahadat Rosul. Gamelan sekaten yang mulai dibunyikan pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul empat sore merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak orang, sehingga masyarakat mulai berbondong-bondong datang ke Masjid Agung untuk mendengarkan gamelan dipukul pertama kalinya.

Kemudian dua buah gamelan tersebut dibunyikan secara bergantian tiap harinya selama perayaan sekaten. Gamelan tersebut tiap pagi mulai dibunyikan pada pukul sembilan, waktu Ashar dan Dzuhur berhenti, kemudian mulai lagi dan berhenti lagi waktu Maghrib dan Isya. Setelah Isya dibunyikan lagi sampai pukul 12 malam. Setelah perayaan sekaten berlangsung tujuh hari, maka tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal, yaitu hari lahir Nabi Muhammad SAW diadakan upacara Garebeg yaitu upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keraton.

Nilai simbolis yang telah diteliti terdiri dari: (1) adanya hidup itu harus ada bapak dan ibu yang semuanya pada dasarnya merupakan kehendak Tuhan, disimbolkan dengan gunungan kakung dan gunungan putri.; (2) bahwa orang harus mempunyai sifat dan semangat keberanian serta kesucian dilambangkan dengan bendera merah putih; (3) manusia harus selalu ingat kepada Tuhan dalam keadaan senang maupun susah, merupakan simbol dari cakra; (4) petunjuk bagi keselamatan dan kekuasaan dari raja Surakarta yang bertahta terkandung dalam makna wapen; (5) sebagai simbol pakaian jasmani dan rohani manusia adalah kampuh; (6) keteguhan hati dalam menghadapi masalah kehidupan dunia dilukiskan dengan entho-entho; (7) telur asin melambangkan laki-laki dan perempuan yang bersatu dan terjadinya manusia baru; (8) kemakmuran dari sebuah kerajaan dilambangkan dengan nasi; (9) semangat hidup dan pertimbangan kewajiban lahir batin dengan Tuhan dan sesama manusia dilihat dari eter; (10) Mendatangkan berkah dan kemulyaan jati diri manusia yang diperoleh dari amal baik terwakili oleh bunga; (11) bermakna tergalangnya persatuan kesatuan dari rakyat dengan erat dan kokoh adalah rengginan; (12) menggambarkan hasil karya wanita dalam dapur atau rumah tangga terwakili oleh jadah, wajik, dan jenang; (13) sebagai sarana memperoleh kebutuhan lahiriah manusia dalam hidup di dunia dan bermakna batiniah sebagai cobaan hidup manusia yang mendatangkan keresahan bagi yang tidak dapat menggunakan terwakili oleh uang logam; (14) dapat menjujung harkat dan martabat orang tua dilambangkan dengan tuntut atau eter kecil; (15) sebagai lambang kehidupan yang baik untuk para Nabi dan Wali terwakili oleh sega uduk atau nasi gurih; (16) kehidupan yang tercukupi dilambangkan pada sega janganan/ nasi sayuran; (17) untuk menyucikan lahir batin disimbolkan dengan sega asahan; (18) penolak balak dan menyingkirkan segala sumber bahaya atau bencana yang akan terjadi terwakili oleh buah-buahan atau jajan pasar; (18) terbinanya kehidupan beragama dan tersedianya kebutuhan di dunia yaitu sandang, pangan, dan papan, (19) awet muda jika memakan sirih saat gamelan sekaten dibunyikan pertama kali, (20) untuk menguji kesungguhan dan keteguhan iman pepatih dalem dalam mengemban perintah ingkang Sinuhun dilambangkan dengan canthangbalung, (21) akan membuat ternak banyak dan terhindar dari penyakit disimbolkan dengan pecut.

Pelaksanaan pembelajaran cerita rakyat di SD, SMP, dan SMA merupakan salah satu upaya pelestarian budaya dalam bidang pendidikan. Penyebarluasan folklor adalah wujud konkret untuk memperkenalkan kepada generasi muda akan keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sehingga akan menimbulkan rasa ikut memiliki serta bangga. Sebagai upaya benteng diri dari masuknya budaya asing yang semakin beragam dan tidak sesuai dengan jiwa serta kepribadian bangsa Indonesia, foklor dari berbagai macam daerah dapat ditampilkan sebagai penyaring budaya asing yang tidak sesuai tersebut. Yaitu dengan adanya pembelajaran sastra di sekolah, dalam hal ini kajian nilai luhur dan budi pekerti yang dapat ditanamkan kepada siswa dari cerita rakyat yang merupakan kekayaan budaya Indonesia. Salah satu cerita rakyat daerah Surakarta yang sarat dengan nilai pendidikan (budi pekerti) dan simbolis yang tinggi adalah cerita rakyat sekaten. Untuk itu pengajaran cerita rakyat ini dapat mendukung dalam upaya pelestarian budaya. Supaya siswa mengetahui cerita rakyat budaya setempat, dan mengetahui bagaimana cerita rakyat sekaten yang berada di Keraton Kasunanan Surakarta itu lebih detail. Sehingga materi yang di dapatkan oleh siswa lebih variatif dengan memperkenalkan cerita rakyat daerah sendiri serta menambah pelajaran tentang nilai budi pekerti dan religi yang menjadi benteng dari budaya asing yang tidak sesuai dengan jiwa serta kepribadian bangsa Indonesia.

2. Saran

Berkaitan dengan simpulan dan implikasi di atas, saran yang dapat diberikan peneliti sebagai berikut:

a. Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten yang berkembang dalam masyarakat Surakarta ini dapat digunakan sebagai bahan ajar untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya pengajaran sastra.

b. Pemerintah Daerah Surakarta dapat lebih mempublikasikan hal-hal yang berkaitan dengan Upacara Tradisi Sekaten, karena upacara tradisi ini dapat dijadikan aset wisata yang menarik.

c. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi peneliti lain yang tertarik untuk mengkaji cerita rakyat.

d. Dinas Pariwisata hendaknya memberikan rekomendasi untuk menerbitkan buku yang berisi cerita rakyat terutama cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta untuk dijadikan sumber informasi dan bahan ajar bagi guru. Selain itu buku tersebut juga dapat dijadikan bahan bacaan bagi siswa baik SD, SMP, dan SMA.

DAFTAR PUSTAKA

Agustina Noor Rahmawati. 2002. Sekaten Tahun Dal dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Masyarakat Surakarta. Surakarta: Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS.

Anton Moeliono (penyunting). 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

________________________. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Atar Semi. 1993. Anatomi Sastra. Padang : Angkasa Raya.

B. Rahmanto.1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

B. Soelarto. 1993. Garebeg di Kasultanan Yogyakarta. Jakarta: Kanius.

Burhan Nurgiyantoro. 1994. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.

Danandjaja, James. 1997. Folklor Indonesia. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti

Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta.

GPH. Poeger. 2002. Sekaten. Karaton Surakarta: Kapustakan Sono Pustoko Karaton Surakarta

Herusatoto, Budiono. 1987. Simbolisme Dalam Budaya Jawa.Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

Kemp, Jerrold. E. 1994. Proses Perancangan Pengajaran. Bandung: ITB.

Koentjaraningrat.1984. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

_____________. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

KRT. Haji Handipaningrat. Perayaan Sekaten. Surakarta: Kapustakan Sono Pustoko Karaton Surakarta.

Moleong,Lexy.J. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja.

Panuti Sudjiman. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Peursen, C.A. Van. 1990. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Rara Sugiyarti. 2004. Pengembangan Interpretasi Folklor Objek Wisata untuk Meningkatkan Kualitas Sadar Wisata di Kabupaten Grobogan. Surakarta: Sastra dan Seni Rupa UNS.

Serat Kabar Sedyatama. 1865. Babad Sekaten: Karaton Kasunanan Surakarta.

Susanto. 2004. Metode Penelitian Sosial. Surakarta. Sebelas Maret University Press.

Sutarjo. 1998. Nilai Simbolis dan Religius dalam upacara Tradisional Bersih Desa. Penelitian Mandiri: UNS.

Sutopo, H.B. 2002.Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta. Sebelas Maret University Press.

Supanto. 1982. Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Proyek Inventaris dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Waluyo, J. Herman. 1994. Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

W.J.S. Poerwadarminto. 2003. Ensiklopedi Umum. Jakarta: Balai Pustaka.